Komarudin, Pejuang Indonesia yang Berasal dari Korea

 Komarudin, Pejuang Indonesia yang Berasal dari Korea

Kitapastibisa.id – Komarudin, Pejuang Indonesia yang Berasal dari Korea – Urbanasia

Komarudin, Pejuang Indonesia yang Berasal dari Korea – Yang Chil Sung atau biasa dipanggil Komarudin, adalah seorang pejuang kewarganegaraan Korea yang ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia saat itu. Setelah Indonesia dan Korea merdeka pada tahun 1945, Yang Chil Sung tidak kembali ke Korea, namun tetap tinggal di Indonesia, lalu berganti nama dengan Komarudin.

Di Garut sendiri terdapat tiga tentara bukan pribumi asli, Hasegawa (Abubakar) dan Masahiro Aoki (Usman) dan termasuk Komarudin yang membantu dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka berperang secara gerilya dalam kelompok yang dijuluki “Pasukan Pangeran Papak” dari Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) pimpinan Mayor Kosasih, yang bermarkas di Kecamatan Wanaraja, Garut.  Pasukan ini juga pernah ikut berperang dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Diketahui Komarudin saat itu bertugas merakit bom guna merusak jembatan yang akan dilalui tentara Belanda masuk ke Garut. Sedangkan Abubakar dan Usman sebagai ahli strategi dan berkat ketiganya perjuangan rakyat Garut terbantu. Namun aksi ketiganya yang membantu perjuangan Indonesia harus berakhir di tangan Belanda, karena tertangkap di Gunung Dora perbatasan Garut dan Tasikmalaya.

Baca Juga  Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan

Komarudin dan dua rekannya tewas ditembak mati tentara Belanda saat agresi militer II, karena dianggap melakukan tindakan makar kepada Belanda. Saat ini jasad ketiga pejuang tersebut dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Kabupaten Garut.

Baca Juga: Soal Mencari Rezeki, Manusia Tidak Perlu Khawatir

Sebelum Wafat Komarudin Sempat Memeluk Agama Islam

Kisah Komarudin berawal dari Jepang yang membawanya ke Indonesia. Pada saat tahun 1942, dia ditugaskan menjaga tahanan di Bandung. Namun ketika Jepang menyerah, tidak semua tentaranya kembali ke negara tersebut. Komarudin beserta dua tentara Jepang lainnya memilih tetap bertahan di Indonesia dan mereka memutuskan untuk berpindah Agama Islam.

Setelah itu Komarudin juga mempersunting perempuan pribumi bernama Lince Wenas. Tetapi sayangnya, hubungan mereka tak bertahan lama. Setelah dikaruniai seorang anak mereka berpisah. Lince pergi ke kampung halamannya dan Komarudin masih bertahan di Garut untuk berjuang bersama laskar.

Semenjak bergabung dengan Pasukan Pangeran Pakpak (PPP) Garut pimpinan Mayor Saoed Moestofa Kosasih. Komarudin seolah menjadi hantu yang menakutkan bagi militer Belanda. Berbagai operasi penyerangan, sabotase, dan penghadangan di sekitar Wanaraja kerap mereka lakukan secara sporadis dan militan.

Baca Juga  Putri Ariani Penyanyi Tunanetra Bersuara Merdu

Hingga mengakibatkan tentara Belanda semakin berang, sampai dibuatlah rencana operasi perburuan dengan melibatkan satu tim elit buru sergap dari Yon 3-14-RI (Regiment Infanterie). Sebuah batalion Angkatan Darat Belanda yang dipimpin Letnan Kolonel P.W.van Duin.

Lewat tengah malam, terdengar tembakan bersahutan, sadar sudah terkepung, Letnan Djoehana, Usman, Abubakar, dan Komaruddin memutuskan menyerah. Tampak mereka dengan tangan dan leher terikat seutas tali tersenyum dalam wajah yang tenang.

Militer Belanda lantas membuat pengadilan militer kilat, dengan memberi hukuman mati. Sedangkan Letnan Djoehana dihukum penjara seumur hidup di Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta. Menurut Yoyo Dasrio, Letnan Djoehana, sempat melakukan pembelaan diri hingga lolos dari hukuman mati.

Artikel Terkait