Kisah Perakit Robot Limbah Merawat Budaya Rajah

 Kisah Perakit Robot Limbah Merawat Budaya Rajah

kitapastibisa.id – Muhtarom (41), perakit robot limbah yang juga seniman rajah tengah memegang alat rajah tradisional. Foto: HB

“Terkenal sebagai perakit robot limbah, kini Muhtarom (41) kembali menemukan jalannya. Setelah selama beberapa tahun terakhir merakit robot yang terbuat dari sampah, apa kabar Lek Tarom saat ini?”

Di dalam sebuah rak lusuh yang tampak seperti diorama, tersimpan robot kreasi Muhtarom. Diselimuti debu, namun masih gagah. Pria yang akrab disapa Lek Tarom ini sempat dikenal sebagai perakit robot limbah asal Semarang. Namun, kini koleksi robotnya tak kunjung dijamah. Selama beberapa tahun terakhir Dalang Robot Limbah ini belum melanjutkan khitahnya.

Di tiap sendi, detail, dan bagian dari robot itu tersemat cita-cita Muhtarom. Rencananya, robot-robot buatannya itu akan disimpan dalam sebuah diorama yang menceritakan kehidupan manusia. Pengunjung bisa menikmati detail nan elegan robot kreasi Lek Tarom yang tersusun dengan beragam tema.

“Inginnya itu ada diorama yang menggambarkan suatu kehidupan yang nantinya tercampur dengan masa depan, dengan teknologi gitu dari robot-robot ini. Atau dengan tema perbudakan dari robot-robot ini, ada penjaga, ada suatu kehidupan. Tapi semua dari barang-barang bekas,” jelas Lek Tarom sewaktu diwawancarai Rabu, (11/03), 2020.

Pria asli Semarang itu memulai debutnya sebagai kreator robot limbah pada tahun 2017 silam. Baginya, merakit robot merupakan upayanya dalam menjaga alam. Sebagai pria yang senang menyambangi gunung, ia mengaku jengah melihat sampah yang berserakan. Pasalnya tak semua sampah dapat terurai dengan cepat. Sebagian limbah justru menuai masalah ekologi.

“Karena banyak orang pas mendaki itu ada yang kadang bawa sampah kemudian dibawa turun, ada yang ditinggal begitu saja. Nah kekhawatiran kita karena sampah itu tidak bisa membusuk. Sehingga pada waktu nanti ke depannya akan selalu penuh dan juga akan merugikan kita dan lingkungan. Dari ide seperti itu kita berusaha memanfaatkan sampah yang mereka buang untuk dijadikan suatu karya seni atau minimal bisa menjadi sesuatu yang lain,” tutur pria bertato itu.

Baca Juga  Mouly Surya, Filmmaker yang Berprestasi Hingga Dunia Internasional

Jalan Pertapaan Dalang Robot Limbah

Kisah Perakit Robot Limbah Merawat Budaya Rajah
beritapapua.id – Kisah Perakit Robot Limbah Merawat Budaya Rajah – HB

Jalan terjal ia lalui. Tato di sekujur tubuhnya kerap mengundang cibiran. Stigma negatif melekat pada sosok gondrong nan gimbal penuh tato yang menjadi ciri khas Lek Tarom. Namun semua itu ia anggap lumrah. Perbedaan itu sudah menjadi risikonya sebagai seorang seniman tato. Baginya, terlihat beda tak jadi justifikasi untuk membedakan.

“Kalau cibiran ya pastilah, mas. Di sini seringkali enggak usah jauh-jauh, dari tetangga saja bahwasannya diskriminasi itu ada. Sehingga orang itu melihat kita agak sinis atau pandangannya kurang bagus itu sudah lumrah menurut saya, karena kita beda untuk dengan pandangan mereka, dengan bentuk mereka, itu sudah beda,” jelasnya.

Cibiran itu tidak menghentikannya untuk berbuat baik ada sekitar. Lek Tarom mengaku bahwa ia tidak mengambil keuntungan dari karyanya itu. Robot limbah yang ia rakit kerap diberikan secara cuma-cuma kepada anak-anak di lingkungan rumahnya. Ia tidak menjual robot-robot itu. Bahkan, Dalang Robot Limbah ini tak segan membagi ilmunya pada orang lain.

Tak dapat dipungkiri bahwa memahamkan diri soal perbedaan bukanlah perihal mudah. Pria berumur 40 tahun ini bahkan masih dapat melontarkan guyon tatkala bercerita soal diskriminasi yang ia terima.

“Contoh kecil saja ibu-ibu di sini. Kalau anaknya tidak bisa tidur atau tidak bisa makan, yang mereka ajak itu, “tak panggilkan Om Tarom,” akhirnya mereka mau makan dan tidur. Itu jadi kesannya kita jadi dijadikan memedi di sini. Itu hal di sini yang sangat sederhana di lingkungan saya. Tapi ya oke-oke saja. Kalau buat saya hal yang biasa,” tuturnya dengan tawa.

Baca Juga  Angkie Yudistia, Sosok Perempuan Inspiratif

Sikap tenangnya bermuara pada kepercayaan yang ia anut. Menurut kepercayaannya, dosa yang ia lakukan akan menghambat rezekinya. Ini yang menyebabkan ia vakum menggarap robot-robotnya.

“Kalau perbuatan dosa itu kan menutup pintu rezeki. Itu yang kemarin terjadi sama saya. Sempat tidak kegiatan itu kan bahaya,” ungkap pria penganut kepercayaan kejawen itu.

Misi Budaya dalam Seni Rajah

Kisah Perakit Robot Limbah Merawat Budaya Rajah
Beritapapua.id – Lek Tarom sedang mempersiapkan alat untuk melakukan rajah. Foto: HB

Setelah sekitar satu tahun vakum menjadi perakit robot limbah, ia akhirnya bangkit. Menurut kepercayaan yang ia anut, semedi merupakan cara untuk mengenal dirinya sendiri. Kini, pria yang sejak tahun 1998 menekuni seni rajah tradisional ini kembali pada seni lukis tubuh. Mirip seni rajah asal Jepang, tebori, namun bukan itu. Ia mencoba mengenalkan pada masyarakat seni rajah asal Mentawai yang diklaim yang tertua di dunia.

Di sini ada misi budayanya. Saya ingin mengenalkan satu tradisi yang sudah ada dari zaman dulu, dari nenek moyang kita, dari suku-suku terutama,” jelas Lek Tarom.

Dalam pengerjaannya, Lek Tarom menggunakan teknik hand poking dan hand tapping layaknya tebori asal Jepang. Kepiawaiannya itu ia peroleh dari kesenian rajah Mentawai, seni rajah tertua di dunia. Motif dari rajah tradisional ini sangat khas, yakni tribal dan etnik. Masyarakat pedalaman Siberut, Mentawai, memegang kepercayaan yang disebut dengan Arat Sabulungan.

Dalam Kepercayaan itu, mereka percaya bahwa tato tidak boleh lepas dari kehidupan mereka. Menurut maknanya, tato mentawai menggambarkan keseimbangan hidup di mana mereka percaya semua yang hidup di alam memiliki roh. Namun dalam kiprahnya sebagai seniman tato, tak jarang ia pula menggarap motif-motif modern atau sesuai dengan permintaan pelanggan.

Baca Juga  Kanye West Musisi dengan Penghasilan Tertinggi Tahun 2020

Terlepas dari seni rajah yang berasal dari kepulauan di Sumatera Barat itu, menurutnya, masyarakat Jawa pula mengenal tato sebagai identitas sosial dan simbol-simbol kepercayaan. Seni rajah Mentawai yang ia bawa merupakan upaya dalam mengungkap sejarah tato di masyarakat Jawa.

“Suku Jawa sendiri pun juga memakai tato, rajah tato, sehingga banyak di sini hampir banyak, kalau di Jawa itu termasuk ke spiritual untuk rajah tatonya,” jelasnya.

Antara Gempuran Zaman dan Merawat Tradisi

Tubuh Lek Tarom yang penuh dengan tato merupakan representasi dari pandangannya terhadap seni rajah. Dahulu, simbol dan motif yang dilukis pada tubuh seseorang merupakan tanda sosial atau cara untuk membedakan satu suku dengan suku lainnya. Pandangan itu yang membuatnya yakin bahwa tato tak hanya sekadar gambar pada tubuh saja.

“Dikatakan baru juga sudah ada juga pada waktu, sebenarnya nenek moyang sudah melakukan tato atau rajah tubuh yang artinya menandai suatu tanda, baik itu tanda sosial dalam suatu kehidupan, atau tanda dalam suatu suku, untuk membedakan satu suku dengan suku lain. Itu sudah ada dari nenek moyang. Kita hanya sebagai penerus saja untuk mengembangkan lebih bagus lagi,” ungkap Lek Tarom.

Namun, pandangannya tersebut agaknya tak sesuai dengan perspektif masyarakat modern. Kini, tato kerap dianggap sebagai simbol kaum marjinal. Simbol penuh makna dari tato kian luntur tergerus zaman.

“Dengan adanya budaya yang baru masuk ke Indonesia, itu akhirnya jadi sebuah kontra (budaya rajah di Jawa). Sehingga kita mungkin menggambarkan untuk mengajak orang supaya tahu dulu,” jelas Seniman Rajah itu. (HB)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *