Kisah Pemabuk yang Buat Rasul Tertawa

 Kisah Pemabuk yang Buat Rasul Tertawa

Kitapastibisa.id – Kisah Pemabuk yang Buat Rasul Tertawa – Dunia Halal

Kisah Pemabuk yang Buat Rasul Tertawa – Nama Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah sudah tidak asing lagi. Ia adalah sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang kerap membuat nabi tertawa. Namun, salah satu hal yang mencolok dari sahabat Nabi satu ini adalah kegemarannya untuk mabuk-mabukan.

Ia dikenal sebagai sosok yang jenaka, jujur dan apa adanya. Meski gemar mabuk, namun Nu’aiman adalah mujahid Islam yang tidak diragukan. Kegemarannya untuk menenggak minuman keras sudah sangat melekat padanya.

Seperti apa Kisah Pemabuk ini?

Baca Juga: Menurut Islam Tidur Siang Itu Baik

Nu’aiman yang Jenaka

Salah satu kisah yang membuat Rasul tertawa adalah ketika Nu’aiman diajak untuk berdagang ke Negeri Syam bersama Abu Bakar dan Suwaibith. Kala itu, Abu Bakar sebagai pemimpin rombongan memberikan tugas pada setiap orang.

Suwaibith, dikenal sebagai sahabat yang sangat amanah. Abu Bakar memberikannya tugas untuk menjaga makanan. Sedangkan Nu’aiman boleh melakukan apa saja asal mengikuti Abu Bakar.

Dalam Perjalanan, Nu’aiman kelaparan. Ia meminta sepotong roti kepada Suwaibith. Namun, karena tidak ada perintah dari Abu Bakar untuk makan, maka ia tidak mengiyakan permintaan Nu’aiman. Kala itu, Nu’aiman tidak kehabisan akal.

Baca Juga  Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Agama

Sahabat yang gemar mabuk ini pergi ke pasar, tepatnya tempat jual beli budak. Di sana, ia mengatakan bahwa ia memiliki budak seharga 20 Dirham. Sebuah harga yang terlampau murah bagi seorang budak. Biasanya, budak dihargai 100 hingga 200 Dirham.

Dengan harga yang murah, Nu’aiman mengatakan budak ini memiliki kekurangan. Budak tersebut kerap tidak mau mengakui bahwa ia adalah budak dan akan mengatakan bahwa ia adalah orang merdeka.

Setelah mendapatkan pembeli, Nu’aiman pergi dan kembali membawa Suwaibith. Yang ia lakukan saat itu adalah menjual Suwaibith dengan harga 20 Dirham. Dengan uang tersebut, Nu’aiman membeli makanan. Bahkan, ia membelikan Rasulullah hadiah.

Setelah kejadian itu, Abu Bakar curiga. Ia tidak mendapati Suwaibith di dekatnya. Akhirnya, sang pemimpin rombongan bertanya kepada Nu’aiman. Dengan santai Nu’aiman berkata bahwa ia telah menjual Suwaibith.

Akhirnya Nu’aiman mengantarkan Abu Bakar ke pembeli Suwaibith untuk membelinya kembali. Sehingga saat Rasul mendengar kisah tersebut, beliau tertawa.

Pelajaran dari Kisah Nu’aiman yang Pemabuk

Terdapat pelajaran yang sangat berharga dari hubungan Rasulullah dan Nu’aiman. Kala itu, Nu’aiman dihujat lantaran sifatnya yang gemar mabuk. Ia disebut sebagai orang bejat yang tidak pantas berada di dekat Rasul.

Baca Juga  Sifat Perusak Masyarakat Menurut Ajaran Islam

Mendengar hal tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

“Jangan pernah sekali lagi kalian semua menghujat dan melaknat Nuaiman, meskipun dia seperti ini tapi dia selalu membuatku tersenyum, dia masih mencintai Allah dan Aku, dan tidak ada hak bagi kalian melarang Nuaiman mencintai Allah dan mencintaiku sebagai Rasul.”

Kisah tersebut termaktub dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan hujjatul islam Imam Al-Ghazali. Hikmah yang dapat ditarik dari kisah tersebut adalah perihal cara pandang kita terhadap orang lain.

Bukan hal yang baik jika memandang rendah orang lain, khususnya yang terang-terangan melakukan maksiat. Karena perihal hati dan takdir berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini pula disampaikan oleh Syekh Ali Jaber kala menghadiri acara podcast Deddy Corbuzier.

Syek Ali menceritakan kisah kakak beradik yang mendapati adiknya tukang maksiat. Dalam kisah tersebut, kakaknya melihat adiknya yang gemar mabuk dan tidak pernah salat. Ia pun berkata kepadanya bahwa adiknya tidak akan diampuni oleh Allah.

Baca Juga  Abdullah bin Ubay bin Salul, Potret Hoaks Zaman Nabi

“Siapa yang menjadikan kamu Tuhan? Aku ampuni dosanya dan aku hapus kebaikanmu,” ujar Syekh Ali.

Maka kita tidak tahu apa urusan orang lain dengan Allah. Boleh jadi, Allah menetapkan orang lain sebagai ahli surga dan sebaliknya.

Artikel Terkait