Kisah Nenek Merawat 1.000 Buaya di Sumatera Utara

 Kisah Nenek Merawat 1.000 Buaya di Sumatera Utara

Kitapastibisaid – Kisah Nenek Merawat 1.000 Buaya di Sumatera Utara – Vice

Kisah Nenek Merawat 1.000 Buaya di Sumatera Utara – Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kalimat ‘merawat 1.000 buaya’? Mungkin, Anda akan berpikir bahwa itu hal yang sangat sulit. Jangankan 1.000, satu saja pun sudah cukup merepotkan. Anda mulai berpikir bahwa merawat 1.000 reptil itu adalah hal yang tidak mungkin. Namun, tidak bagi nenek satu ini.

Ia adalah Lim Wi Chu, seorang nenek 72 tahun ini merawat 1.000 buaya peninggalan mendiang suaminya yang telah meninggal. Setelah suaminya meninggal 12 tahun yang lalu, Ibu Lim bertanggung jawab atas penangkaran buaya milik suaminya. Penangkaran itu bernama Taman Buaya Asam Kumbang.

Penangkaran buaya itu telah berdiri sejak 1959. Lo Than Muk, suami dari Ibu Lim, merupakan sosok pendiri Taman Buaya seluas 2 hektare itu. Awalnya, Than Muk hanya memeliara 12 ekor buaya yang ia peroleh dari rawa dan sungai sekitar Kota Medan. Awalnya, jumlah buaya masih banyak dan bukan merupakan hewan yang terancam.

Pada 1984, dengan jumlah buaya yang kian banyak, ia sukses menyabet gelar Perintis Lingkungan Terbaik Tingkat Sumatera Utara. Hingga saat ini, Taman Buaya Asam Kumbang ini menjadi salah satu lokasi wisata favorit warga Sumatera.

Baca Juga  Stan Lee Sosok Inspiratif Pencipta Marvel Comics

Namun, timbul pertanyaan. Sebenarnya, bagaimana perawatan buaya-buaya itu?

Baca Juga: Gemar Komentar dalam Medsos? Perhatikan Adabnya dalam Islam

Nasib 1.000 Buaya

“Saya tidak mau membayangkan terlalu jauh. Sekarang saya mau fokus mengurus buaya supaya hewan-hewan ini bisa bertahan hidup,” papar Ibu Lim, mengutip dari Vice.

Ibu Lim mengingat bagaimana suaminya, Than Muk, merawat buaya-buaya itu penuh kasih sayang. Menurutnya, suaminya itu merawat buayanya sebagaimana ia merawat anaknya sendiri. Bayangkan, ribuan buaya itu hidup sehat dalam penangkaran yang ia buat.

Ibu Lim menjelaskan bahwa ribuan buaya itu menghabiskan 500 kilogram daging setiap harinya. Anda bisa membayangkan berapa biaya makan hewan itu selama satu bulan. Namun, hal itu masih tertolong lantaran penangkaran buaya ini menjadi tempat wisata.

Meski demikian, Ibu Lim mengaku tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat. Terutama ketika pandemi ini menyerang. Tahun 2020 merupakan tahun yang berat baginya dalam merawat buaya. Karena pemasukan berkurang, buaya itu mulai terlihat kurus. Jatah makannya berkurang dari 500 kilogram menjadi 100 kilogram per hari.

Baca Juga  Mengenal Sosok Kepahlawanan Seorang MT Haryono

“Kadang-kadang kami memberi ayam yang sudah mati karena harganya lebih murah. Kami juga mencari ke pasar, tapi harganya lebih mahal. Ada kalanya kami memberi potongan daging, tapi tidak setiap hari. Saya memberikannya dua atau tiga hari sekali. Kalau misalnya kami punya 200 kilogram potongan daging, kami akan memberikannya separuh selama dua hari,” tutur Ibu Lim.

Dengan jatah makan yang terbatas, Ibu Lim menyebut buaya ini kadang harus puasa. Kadang, untuk memberi makan buaya ini, pengurus penangkaran harus menikam burung yang lewat. Atau, kadang ada ayam yang jatuh ke penangkaran.

“Saya cuma berharap banyak pengunjung yang datang supaya buayanya bisa makan dan saya bisa menggaji karyawan. Sudah itu saja,” ungkap Ibu Lim.

“Banyak wisatawan asing yang berkunjung pada 1990-an, ketika suami saya masih hidup. Dia mengurus buaya seperti anaknya sendiri. Saya sangat merindukan masa-masa itu, tapi sekarang saya sudah tua jadi saya tidak mau memikirkannya lagi,” imbuhnya.

Artikel Terkait