Kisah Hidup Seto Mulyadi, Psikolog Ternama Indonesia

 Kisah Hidup Seto Mulyadi, Psikolog Ternama Indonesia

Kitapastibisa.id – Kisah Hidup Seto Mulyadi, Psikolog Ternama Indonesia – Pikiran Rakyat

Kisah Hidup Seto Mulyadi, Psikolog Ternama Indonesia – Siapa yang tidak tau sosok Seto Mulyadi? Anak 80 dan 90-an mungkin sangat akrab dengan pria satu ini. Dari Tina Toon nyanyi bolo-bolo hingga kini jadi anggota DPRD, pria dengan sapaan akrab Kak Seto ini sudah menggeluti dunia psikologi.

Ia adalah Seto Mulyadi, psikolog Indonesia yang lahir pada 28 Agustus 1951. Psikolog asal Klaten ini memberikan banyak sekali sumbangsih kepada negara. Khususnya pada sektor anak-anak. Beliau merupakan pencipta tokoh Si Komo yang terkenal pada tahun 80-an.

Masyarakat mengenal beliau sebagai psikolog anak. Tak ayal bila hingga saat ini beliau masih menyandang nama ‘Kak’. Hal itu agar beliau terkesan akrab dengan anak-anak. Panggilan Kakak untuk Seto Mulyadi yang telah berumur 69 tahun itu masih pantas hingga kini. Lihat saja senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Belum lagi perangainya yang ramah dan hangat selalu menyertai Kak Seto kemana ia pergi.

Bertahun-tahun menggeluti bidang psikologi, ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak. Tak hanya itu, ia juga mengetuai Lembaga Perlindungan Anak Indonesia. Kini, ia menjadi Dewan Konsultatif Nasional. Namun demikian, tahu kah Anda tentang masa lalu Kak Seto? Pria yang dekat dengan anak-anak Indonesia ini pernah mengalami masa kecil yang buruk. Bahkan, ia pernah hampir bunuh diri. Bagaimana kisah masa lalu Kak Seto?

Baca Juga  Zubir Said, Orang Indonesia di Balik Lagu Kebangsaan Singapura

Baca Juga: Kristen Stewart Bicara Tentang Orientasi Seksualnya

Masa Lalu Kak Seto: Kompetisi Saudara hingga Hampir Bunuh Diri

Kisah Hidup Seto Mulyadi, Psikolog Ternama Indonesia
Kitapastibisa.id – Kisah Hidup Seto Mulyadi, Psikolog Ternama Indonesia – Kuyou

“Saya ini korban harus jadi dokter. Saya kembar, saudara saya lebih pintar,” ujar Seto dikutip dari Kompas.com Selasa (24/9/2019).

Kompetisi masa kecil Kak Seto dengan saudara kembarnya, Kresno Mulyadi, ternyata menjadi kenangan buruk baginya. Dahulu, orang tua mereka memaksa mereka berdua untuk menjadi seorang dokter. Namun, Kak Seto tidak mampu meraih itu. Ketika saudara kembarnya lolos ujian seleksi Fakultas Kedokteran, Seto Mulyadi harus menahan kenyataan pahit. Ia gagal dalam ujian tersebut. Kegagalan itu merupakan pukulan telak baginya. Bahkan, ia hampir mengakhiri hidupnya.

“Gara-gara itu, ada tali rapia. Hampir aja ( mengakhiri hidup). Terus saya kabur ke Jakarta,” ujar Kak Seto ini.

Setelah kabur ke Jakarta, cobaan hidup semakin kuat mengikat. Kak Seto hidup menggembel selama 7 bulan. Emperan toko dan pasar menjadi pilihannya untuk bermalam. Mulai jadi kuli pasar hingga tukang batu ia lakoni demi mencari penghidupan. Kehidupan Jakarta yang keras mewarnai masa muda Seto Mulyadi. Kala itu, ia selalu menyimpan pisau yang ia dapat dari seorang preman. Tujuannya agar Seto dapat membela diri dari kerasnya Jakarta.

Baca Juga  Atlet Difabel Yang Berprestasi dan Menginspirasi

Kak Seto mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari kuli pasar dan tukang batu. Ia berkesempatan menjadi seorang asisten rumah tangga. Pekerjaan itu ia lakoni sambil kuliah jurusan Psikologi. Bahkan hingga lulus, Kak Seto masih hidup sebagai gelandangan.

“Waktu itu saya tidak mau pulang sebelum sukses. Sampai saya jadi mandiri, baru berani pulang. Alhamdulillah bisa,” ucapnya.

Masa Lalu Telah Membuka Mata Kak Seto

Bagi Kak Seto, semua anak adalah hebat. Orang tua harus mampu melihat potensi anak tanpa memaksakan kehendak mereka. Tekanan yang hadir dalam kehidupan anak dapat membuat mereka stres. Bahkan, tekanan itu boleh jadi datang dari orang tua. Pengalaman masa lalunya membuat ia sangat terikat dengan dunia anak. Terlebih, selama tujuh tahun menjadi asisten rumah tangga ia belajar banyak dari tuan rumahnya. Tuan rumah tempat Kak Seto menjadi asisten rumah tangga adalah tokoh yang piawai dalam bidang pendidikan.

Adalah Pak Kasur, seorang tokoh pendidikan Indonesia yang kerap memandu acara Taman Indria di TVRI. Seto Mulyadi belajar banyak darinya kala ia menjadi asisten rumah tangganya. Dari sana, kariernya bergerak.

Kak Seto menjadi seorang pengisi acara dalam acara Aneka Ria Taman Kanak-kanak bersama Henny Purwonegoro. Yang ia lakoni adalah pekerjaan edukatif untuk anak-anak. Ia  mengajar sambil bernyanyi, bahkan bermain sulap untuk anak-anak.

Baca Juga  Kisah Dokter Inspiratif Lie Dharmawan

Prestasinya dalam dunia pendidikan anak semakin cemerlang. Kak Seto menciptakan karakter Si Komo yang kemudian menjadi ikon acara televisinya. Mulai dari sana, Seto Mulyadi memperoleh sejumlah penghargaan. Salah satunya adalah The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess International pada 1987. Seto Mulyadi bahkan mampu mendirikan  Yayasan Mutiara Indonesia dan Yayasan Nakula Sadewa sebagai bentuk kecintaannya pada dunia Anak.

Bahwa Luka Masa Lalu dapat Menjadi Cahaya Bagi orang Lain pada Masa Depan

Kak Seto membuktikan bahwa masa lalu yang kelam tak selamanya buruk. Mampu berdamai dengan masa lalu dan berupaya untuk membantu orang lain merupakan impian yang mulia.

Salah satu hikmah dari kisah Kak Seto adalah, ia tidak membiarkan anak-anak lainnya merasakan apa yang ia rasakan. Baginya, semua anak luar biasa. Untuk itu, tugas orang tua untuk mampu melihat potensi anak dan memberikan perhatian pada anaknya.

Waktu adalah hal yang paling berharga. Sebagai orang tua, waktu bersama anak merupakan hal yang tidak ternilai bagi anak. Sayangi lah mereka, berikan perhatian dan dukungan agar potensi anak terlihat.

‘”Kalau tidak punya waktu untuk anaknya, buat apa memiliki anak?” tutup Kak Seto.

Artikel Terkait