Kisah Eli, Penjaga Perbatasan Indonesia-Australia

 Kisah Eli, Penjaga Perbatasan Indonesia-Australia

Kitapastibisa.id – Kisah Eli, Penjaga Perbatasan Indonesia-Australia – Kumparan

Kisah Eli, Penjaga Perbatasan Indonesia-Australia – Berapa harga dari sebuah kesetiaan? Atau, apa hadiah yang pantas bagi pengabdian kepada negara? Sebagian orang menyebut kehormatan, ketenaran dan kemakmuran pantas bagi mereka. Namun, tidak bagi bapak yang satu ini.

Elkana Amarduan. Seorang kakek yang akrab disapa Eli, penjaga rambu suar perbatasan Indonesia-Australia. Ia adalah seorang warga Desa Eliasa, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), Maluku. Sudah 23 tahun lamanya ia menjaga rambu suar perbatasan Indonesia dengan Australia. Kini, beliau semakin tua. Usianya sudah kepala 6.

“Sudah 23 tahun saya jaga dua aset negara ini, rambu suar dan tapal batas, tanpa digaji baik dari pemerintah desa maupun pihak mana saja. Saya lakukan ini dengan suka rela,” ujar Eli, dikutip dari Antara.

Siapa yang sanggup mengemban tugas itu? Seorang diri menjaga rambu suar dan tapal batas tanpa upah dari siapa pun. Tugas itu ia terima dari Kepala Dusun Eliasa sejak tahun 1998.

Rambu suar yang dijaga oleh Eli adalah rambu yang diresmikan oleh Panglima Komando Daerah Militer XVI/Pattimura Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo. Rambu itu rampung pada tahun 1997 yang sebelumnya merupakan proyek dari Kementerian Perhubungan RI. Kecintaannya kepada Indonesia diwujudkan dalam pengabdian merawat aset negara, yakni rambu suar yang berada di Pulau Selaru, perbatasan Indonesia-Australia.

Baca Juga  Yane Ansanay, Melahirkan Calon Peneliti Muda Asal Papua

Baca Juga: Designer Kenzo Takada Meninggal Dunia karena Covid-19

Eli, Sang Penjaga Suar Pulau Selaru

Kisah Eli, Penjaga Perbatasan Indonesia-Australia
Kitapastibisa.id – Kisah Eli, Penjaga Perbatasan Indonesia-Australia – Cakap

Meski tak menerima upah, Eli setia mengemban tugasnya. Awalnya, menjaga suar adalah sebuah tugas. Kini, ia tak lebih dari sebuah tanggung jawab yang ia lakukan secara sukarela.

Beberapa waktu lalu, muncul wacana dari perangkat Desa Eliasa untuk memberi Eli upah. Rencananya, rambu suar tersebut akan menjadi tempat wisata dengan tiket berbayar. Hasil penjualan tiket akan menjadi upah Eli. Terlepas dari benar atau tidak, Eli tidak mengurungkan niatnya untuk tetap menjaga rambu suar.

“Insyaallah jika memang terjawab seperti itu. Tapi kalau dari pemerintah baik dari Kabupaten sampai ke pusat tidak perhatikan juga. Biarlah saya bertahan apa adanya. Sebab menara ini dibangun di atas petuanan dan di dalam dusun saya,” tutur Eli.

“Saya merasa punya tanggung jawab sejak 1998 sampai hari ini. Karena kepercayaan yang diberikan dari Kepala Dusun untuk saya,” imbuh Eli.

Sementara itu, Rambu suar yang dijaga Eli memiliki peran penting dalam navigasi pelayaran. Ia berfungsi membantu para navigator memetakan adanya bahaya navigasi seperti arang, air dangkal, gosong, dan bahaya terpencil. Rambu suar juga menjadi tanda batas wilayah negara. Untuk itu, Eli siap menjaga rambu suar dari orang tak bertanggung jawab selama ia mampu.

Baca Juga  Ajarkan Kecintaan Membaca Pada Anak Sejak Dini

Tanggapan Dinas Perhubungan Laut

Selanjutnya pada tahun 2019, ia mendapatkan kunjungan dari Distrik Navigasi kelas III Tual dan Humas Kantor Pusat Ditjen Perhubungan Laut. Kadis Distrik Navigasi kelas III Tual, Budi Setiaji, memberikan apresiasi kepada Eli yang setia menjaga rambu suar.

“Kami sudah melakukan pengecekan data bahwa di Pulau Selaru tersebut bukan menara suar, tetapi adalah rambu suar. Kalau menara suar memang ada penjaganya dan Pemerintah telah menganggarkan untuk menggaji penjaganya sedangkan rambu suar memang tidak ada penjaganya,” ujar Budi dikutip dari republika.

Pernyataan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 25/2011 tentang Sarana Bantu Navigasi Pelayaran. Bahwa rambu suar bersifat statis dan bekerja secara otomatis, sebenarnya tidak perlu penjagaan. Melainkan hanya butuh perawatan.

“Namun demikian, kami tetap memberikan apresiasi kepada Pak Eli yang sudah secara sukarela membantu menjaga dan merawat rambu suar atas dasar kecintaannya terhadap aset negara dan Republik ini,” ujar Budi.

Dari kisah Eli kita dapat mempelajari bahwa kesetiaan dan tanggung jawab merupakan hal yang mahal. Mampukah kita menumbuhkan rasa tanggung jawab serta cinta negara sebagaimana Pak Eli?

Baca Juga  Raynaldo Ginting Pendiri Rumah Baca Love Borneo

Artikel Terkait