Ketahanan Pangan Melalui Kebun Tengah Kota Kampung Glintung

 Ketahanan Pangan Melalui Kebun Tengah Kota Kampung Glintung

Kitapastibisa.id – Ketahanan Pangan Melalui Kebun Tengah Kota Kampung Glintung – Malang Today

Ketahanan Pangan Melalui Kebun Tengah Kota Kampung Glintung – Menangkal pandemi, strategi ketahanan pangan menjadi solusi. Begitulah yang diupayakan oleh warga Kampung Glintung, Kota Malang. Mereka membangun kebun tengah kota sebagai lumbung pangan mandiri warga lokal. Sejauh mata memandang, hanya terlihat hijau sayur mayur Kampung Glintung. Polybag sebagai media semai tanaman tersusun rapi pada pekarangan warga Glintung. Sementara pada sisi lainnya, terdapat instalasi hidroponik bagi tanaman dewasa.

Terong, cabai, tomat, selada, hingga brokoli, semua tersedia. Masyarakat Kampung Glintung mengembangkan konsep urban farming, yakni pembukaan lahan hijau tengah kota. Kini, masyarakat Glintung mampu memenuhi kebutuhan sayurnya sendiri.

Ide penghijauan Kampung Glintung berasal dari ketua RW 23, Ir. Hj. Bambang Irianto. Sejak 8 tahun lalu, beliau mengajak segenap warga untuk melakukan program Glintung Go Green (3G). Kini, Kampung Glintung memiliki beragam kelompok kerja. Adapun kelompok tersebut kelompok sayuran, budidaya ikan, budidaya peternakan entok dan lingkungan untuk mengelola bank sampah dan kompos. Berikut capaian warga Kampung Glintung melalui program 3G-nya.

Baca Juga  Indonesia Berkebun, Opsi Menghadapi Krisis Pangan

Baca Juga: Kisah Eli, Penjaga Perbatasan Indonesia-Australia

Ketahanan Pangan Melalui Kebun Tengah Kota Kampung Glintung
Kitapastibisa.id – Ketahanan Pangan Melalui Kebun Tengah Kota Kampung Glintung – ITN Malang

1. Pertanian dan Perikanan

Semua bermula dari 250 polybag cabai dan tomat. Warga kampung bekerja sama dengan kelompok kerja (Pokja) Tim Penggerak PKK Kota Malang bidang ketahanan pangan mulai menggarap konsep urban farming. Ketekunan warga serta peran serta pemerintah setempat berbuah manis. Kelompok tani warga mulai mengembangkan jenis sayuran lainnya seperti brokoli, tomat, selada, sawi, cabai dan terong. Hasil dari pertanian tersebut kemudian dibagikan untuk konsumsi warga.

Warga juga mampu menjual hasil pertanian mereka ke pasar. Selain mendapatkan untuk ekonomis, lahan pertanian kota ini juga menjadi tempat kegiatan anak muda. Terdapat sekitar 10 persen dari 600 jiwa warga kampung yang terlibat dalam pertanian Kampung Glintung. Sebagian besar adalah manula dan anak muda.

2. Bank Sampah

Bank sampah merupakan bagian khusus yang mengelola limbah dari warga Kampung Glintung. Sampah rumah tangga dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat bagi kelompok kerja. Misal, menjadi pupuk kompos atau menjadi pakan ikan.

Baca Juga  Musamus, Rumah Rayap Asal Merauke

Bank sampah mampu meraup keuntungan 500 hingga 1 juta rupiah perbulan. Nantinya, uang tersebut akan diputar untuk kesejahteraan warga kampung. Contohnya, hasil penjualan sampah kering untuk biaya posyandu balita dan manula. Sebagian lainnya untuk membangun fasilitas warga.

3. Budidaya Ikan Drainase Pekarangan

Selain pertanian, warga juga menggarap sektor perikanan. Uniknya, hal ini dilakukan di selokan. Mereka memulainya dengan menebar bibit nila pada saluran drainase dan benih lele dalam drum terpal. Ikan-ikan ini kini dapat dijumpai di depan pekarangan sebagian warga. Mereka memiliki drainase khusus untuk budidaya ikan ini. Drainase itu merupakan limpahan air bersih untuk kebutuhan mandi dan cuci warga. Sedangkan untuk limbah rumah tangga, mereka memiliki saluran terpisah.

Bermula dari nila dan lele, kini mereka memiliki ikan gurami dan wader. Untuk nila, masa panennya berkisar 4 sampai 5 bulan. Warga kerap mengolah ikan tersebut menjadi makanan untuk warga, salah satunya bakso. Sektor perikanan Glintung mampu memenuhi kebutuhan pangan 25 persen warga. Usai sukses memelihara ikan, warga mulai beralih pada budidaya ikan hias. Glintung punya ikan koi, arwana hingga cupang yang dibudidayakan warga.

Baca Juga  Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas

4. Berhasil Entaskan Banjir

Tahukah Anda bahwa Kampung Glintung merupakan kawasan banjir? Terdengar ganjil ketika mengetahui bahwa kampung yang terdengar seperti ini dulu langganan banjir. Sejak tahun 1960-an, Kampung Glintung sering terendam air banjir. Banjir di Glintung disebabkan sungai yang tak mampu menampung air hujan. Selain itu, posisi permukiman yang lebih rendah dari jalan raya membuat kampung itu menjadi incaran air untuk singgah.

Menanggapi hal tersebut, warga membangun drainase dan embung untuk mengontrol air hujan. Kehadiran drainase dan embung tersebut mampu mengurangi debit air banjir. Sebelumnya, jika air banjir menggenang sekitar 1,5 meter, kini air hanya 30 centimeter saja. Warga sadar akan kondisi kampung mereka yang terletak di daerah banjir. Untuk itu, ke depannya mereka berencana untuk membangun kincir air untuk menggerakkan generator penghasil listrik.

Artikel Terkait