Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas

 Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas

Kitapastibisa.id – Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas – phinemo

Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas – Kesenian lokal merupakan salah satu cara untuk bisa mengungkapkan ekspresi diri, pikiran, dan sebuah respon terhadap alam dan lingkungan sekitar. Seni menjadi salah satu hal yang sangat dekat untuk setiap budaya dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Salah satunya adalah Rianto. Rianto merupakan seorang penari lengger lanang yang sudah membawakan tariannya di puluhan negara. Kisah hidupnya diangkat oleh sutradara Garin Nugroho dalam film Kucumbu Tubuh Indahku, yang dengan gemilang mampu meraih delapan piala Citra, dan menjadi wakil Indonesia untuk dinominasikan di Piala Oscar 2020.

Konon, Tari Lengger bahkan tercatat dalam Serat Centhini, sastra asli Jawa. Lewat tulisan tiga sastrawan yang diutus Mangkunegaran VII keliling Jawa pada sekitar abad ke-18. Mereka menemui tarian itu di daerah yang kini dikenal sebagai Banyumas. Tarian Lengger pun disebut asli Banyumas. Penyebutannya saja berasal dari bahasa Jawa, leng yang berarti lubang dan menjadi simbol perempuan serta ger dari kata jengger yang berarti mahkota ayam, dikenal juga sebagai simbol laki-laki. Kebanyakan penari Lengger adalah laki-laki, yang berdandan, berbusana, dan berlenggok ala perempuan saat tampil di atas panggung untuk menari.

Baca Juga  Melestarikan Museum Lewat Komunitas Malam Museum

Baca Juga: Manfaat Vitamin B12 Bagi Kesehatan Tubuh

Tari Lengger memudar seiring stigma LGBT di Masyarakat

Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas
Kitapastibisa.id – Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas – thejakartapost

Kalau dulu-sekitar 1930 hingga 1960-an-menjadi hiburan membanggakan asal Banyumas, bahkan pernah dipanggil mantan Presiden Soekarno, kelamaan Tari Lengger memudar seiring stigma LGBT di kalangan masyarakat. Tak sedikit penari Lengger yang dicemooh saat pentas.

Cibiran, cacian, tawaan, larangan, bahkan penggerebekan pernah diterima para penari Lengger. Itu dilakukan bahkan oleh kalangan intelektual, dosen seni sekali pun. Tak dipungkiri, Lengger tersisih karena banyak yang risih, lantaran ia sensitif akan isu LGBT.

Alhasil, penari Lengger sekarang tinggal segelintir di Banyumas. Hal tersebut juga diakui oleh Didik Nini Thowok yang dikenal sebagai penari lintas gender. Maestro tari lintas gender Didik Nini Thowok mengakui jumlah penari lengger kini semakin menipis akibat diskriminasi. Sebagian dari mereka tidak diterima, dikucilkan dan diskriminasi.

Padahal, tari lengger ini merupakan salah satu kesenian yang diakui oleh Presiden Soekarno. Foto Presiden Sukarno bersetelan jas masih terpajang di ruang tamu rumah salah satu penari lengger, yakni Dariah. Potret itu mengingatkan kejayaan Dariah sebagai penari lengger lanang di masa akhir Orde Lama hingga Orde Baru. Rezim Orde Baru memberangus semua kesenian rakyat termasuk lengger lanang karena dianggap dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia.

Baca Juga  Tradisi Berburu Paus Di Pulau Lembata NTT

Artikel Terkait