Kenapa Kaum Milenial Suka Rebahan?

 Kenapa Kaum Milenial Suka Rebahan?

kitapastibisa.id – Kenapa Kaum Milenial Suka Rebahan?

Milenial

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa sebagian besar kaum milenial gemar mendekam dalam kamarnya sendiri, terlentang di atas kasurnya sambil menatap layar gawainya. Mereka menyebutnya sebagai ‘rebahan’. Sebuah kegiatan yang kesannya tidak produktif, hanya bermalas-malasan di tempat tidur.

Istilah rebahan ini mulai mencuat ke publik sekitar awal tahun akhir tahun 2018-an. Konsep tersebut merujuk pada sejumlah anak muda yang sangat menginginkan lebih banyak waktu sendiri, di luar jangkauan teman-temannya secara fisik. Mereka lebih memilih berinteraksi sosial melalui dunia virtual.

Fenomena tersebut berujung pada stigma negatif. Pemuda-pemudi yang disebut dengan kaum rebahan ini acapkali dicap sebagai pemalas yang tak punya kehidupan. Mereka langsung pulang tepat setelah jam kerjanya selesai atau jam sekolahnya berakhir. Tak ada aktivitas yang lebih menyenangkan selain merebahkan diri di atas tempat tidur dalam waktu yang lama.

Lantas, ada apa di balik fenomena tersebut?

Menelusur Penyebab Keinginan untuk Rebahan
Mungkin sebagian orang berpikiran bahwa rebahan adalah hal yang negatif. Tentu demikian berbeda dengansi pelaku. Kaum rebahan tentu punya motif di balik perilakunya tersebut. Dalam artikel yang berjudul How our solo homes became cocoons yang diunggah dalam situs curbed.com, istilah kaum rebahan punya alasan spesifik mengapa mereka senang menghabiskan waktu sendiri.

Baca Juga  Ngabuburit Di Rumah Saat Karantina

Salah satu alasannya ialah lelah dengan dunia modern. Kerap kali apa yang dihadapi oleh mereka yang kerap disebut kaum rebahan ini membuat mereka lelah. Mata kuliah yang melelahkan, mata pelajaran yang sulit, atau pekerjaan kantor yang benar-benar menguras pikiran. Dengan penghasilan yang tak seberapa, mereka tidak dapat mencari kesenangan di luar yang mana mereka harus membayarnya.

Alhasil, mereka memiliki tempat tinggal mereka untuk mencari kesenangan. Secara umum, artikel tersebut menjelaskan terdapat dua faktor yang melatarbelakangi kaum milenial untuk terus rebahan, yakni: lelah dengan pekerjaan dunia dan tidak punya uang.

Menghabiskan waktu sendiri bersama gawai juga memiliki alasan tertentu. Bayangkan, Anda dapat mendapatkan berbagai macam kebahagiaan, mulai dari nonton film favorit, mendengarkan musik, pesan makanan,

membaca artikel kesukaan Anda, bahkan menghubungi orang yang Anda cintai baik melalui suara atau tatap muka melalui gawai Anda. Yang terpenting, Anda tak perlu bergerak dari tempat Anda istirahat.

Kemudahan tersebut membuat sebagian besar kaum milenial terbuai dengan kenikmatan yang diberikan oleh rebahan. Nikmat, mudah, dan murah. Masuk akal bukan? Anda tidak perlu lagi repot-repot keluar rumah, berjibaku dengan macetnya jalanan, mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya bensin atau transportasi hanya untuk mendapatkan segelas kopi.

Baca Juga  Merancang Jadwal Olahraga Kardio Yang Efektif

Menyoal Stigma Negatif yang Dilontarkan Kepada Kaum Rebahan

Artikel berjudul How our solo homes became cocoons memiliki sudut pandang yang menarik kala menjelaskan soal stigma negatif yang melekat pada kaum rebahan. Artikel tersebut menjelaskan bagaimana kehidupan sosial, melalui cara mendekorasi rumah.

Perlu diakui bahwa dunia telah berubah. Perubahan inilah yang menyebabkan perubahan perilaku pada masyarakatnya, termasuk membentuk karakter kaum rebahan. Istilah rebahan ini dapat diasosiasikan dengan istilah cocooning, yakni perasaan lebih nyaman di rumah dibandingkan di tempat lain.

Istilah tersebut diciptakan oleh Faith Popcorn, sebuah perusahaan konsultan di bidang marketing yang kerap melakukan riset perilaku pasar, pada tahun 1980-an. Cocooning merupakan perilaku yang mirip dengan perilaku rebahan yang kita kenal saat ini. Perbedaannya, dahulu cocooning menjadikan rumah sebagai tempat kumpul bersama sejumlah orang, sedangkan sekarang dapat dilakukan secara virtual.

Ini berpengaruh kepada gaya hidup seseorang, khususnya dalam mendekorasi rumah mereka. Dahulu, orang akan menciptakan kondisi rumah yang tak hanya nyaman bagi penghuninya, namun juga memberikan kenyamanan pada tamu yang bertandang. Namun, berbeda dengan sekarang.

Baca Juga  Mengenal Berbagai Manfaat Humidifier

Lantaran aktivitas berkumpul sosial dapat dilakukan secara virtual, plus semakin banyak tempat berkumpul di luaran sana, orang cenderung menciptakan tempat tinggal yang nyaman untuk mereka bercengkrama secara virtual, atau melakukan hobi-hobi mereka. Tak peduli jika tamu yang mengunjungi mereka merasa tidak nyaman.

Perbedaan pandangan antara orang dulu dan orang zaman sekarang memberikan impresi yang berbeda, salah satunya soal stigma negatif kaum rebahan. Bagi orang dulu, interaksi tatap muka sangatlah penting, itu sebabnya mereka kerap menganggap anak milenial tak punya kehidupan lantaran terlalu sering rebahan. Padahal, ia melakukannya secara virtual.

Perbedaan pandangan tersebut adalah buntut dari stigmatisasi kemalasan kaum rebahan yang melekat pada mereka, terlepas dari produktivitas mereka–yang tak jarang mereka memiliki produktivitas minim.

Bagaimana menurutmu?

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *