Kenapa Islam Melarang Umatnya Menganggur?

 Kenapa Islam Melarang Umatnya Menganggur?

Kitapastibisa.id – Kenapa Islam Melarang Umatnya Menganggur? – Joblike

Kenapa Islam Melarang Umatnya Menganggur? – Seorang laki-laki tengah duduk pada emperan teras rumahnya. Dengan pakaian seadanya, kaos oblong dan celana lusuh, ia menatapi jalanan dengan tatapan yang kosong. Turut menemani secangkir kopi.

“Tidak usah kerja, toh rezeki sudah diatur,” gumamnya.

Sebuah anekdot yang tak jarang digunakan untuk menggambarkan kondisi pengangguran. Tak jarang bahkan, ungkapan tersebut menjadi alasan untuk membenarkan kondisi tersebut.

Pada dasarnya, Allah telah menetapkan rezeki hamba-Nya sebagaimana Allah berfirman,

“Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, lalu menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu ada yang mampu berbuat sesuatu yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” – (Q.S Ar-Rum: 40).

Meski demikian, menganggur bukanlah perilaku terpuji. Menganggur bukanlah bentuk dari tawakal sebagaimana Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan,

“Namun hal ini bukan berarti seseorang boleh meninggalkan usaha dan bersandar pada apa yang diperoleh makhluk lainnya. Meninggalkan usaha sangat bertentangan dengan tawakkal itu sendiri.” (Fath Al-Bari, 11: 305).

Baca Juga  Sepatu Ramah Lingkungan dari Bahan Alga

Lantas Kenapa Islam Melarang Umatnya Menganggur?

Baca Juga: Sifat Perusak Masyarakat Menurut Ajaran Islam

Kenapa Harus Bekerja?

Terdapat beberapa perkara yang timbul disebabkan karena menganggur. Pertama, ia cenderung terjerumus pada dosa lantaran meninggalkan kewajibannya untuk memberi nafkah.

Ketika seseorang telah berkeluarga, maka menjadi kewajiban untuk memberikan nafkah. Kewajiban tersebut dapat dipenuhi kala seorang laki-laki untuk meraih rezekinya. Allah memberikan jalan untuk memperolehnya, sedangkan hamba-Nya berusaha untuk meraihnya.

Saat seseorang belum berkeluarga, bukan berarti ia tidak memiliki kewajiban. Ia tetap dianjurkan untuk bersedekah bagi dirinya sendiri dan orang terdekatnya. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Mulailah dari dirimu sendiri. Sedekahkanlah untuk dirimu. Selebihnya dari itu untuk keluargamu (anak dan istrimu). Selebihnya lagi dari itu untuk kerabat dekatmu. Selebihnya lagi dari itu untuk tujuan ini dan itu yang ada di hadapanmu, yang ada di kanan dan kirimu.” (HR. Muslim, no. 997)

Kedua, masa menganggur seseorang akan dimintai pertanggungjawabana oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu mengatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga  Menurut Islam Tidur Siang Itu Baik

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2417, dari Abi Barzah Al-Aslami. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Allah telah memberikan jalan bagi hamba-Nya untuk meraih rezekinya. Lantas, tugas kita untuk tidak malas dalam meraihnya.

Artikel Terkait