Insinyur Sutami, Menteri Miskin Yang Membangun Indonesia

 Insinyur Sutami, Menteri Miskin Yang Membangun Indonesia

kitapastibisa.id – Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum era Soekarno dan Soeharto yang sampai akhir hayatnya hidup secara sangat sederhana.

Insinyur Sutami, merupakan legenda di dunia teknik sipil. Namanya hingga kini diabadikan sebagai nama jalan maupun bendungan di Indonesia. Karya-karya fenomenalnya sampai sekarang berdiri kokoh sebagai warisan dedikasi beliau kepada bangsa ini.

Bandara Ngurah Rai, Bali, Gedung DPR-RI, Jembatan Semanggi dan Waduk Jatiluhur merupakan mahakarya yang dibangun di bawah pengawasan beliau ketika menjabat.

14 tahun dipercaya sebagai menteri di zaman kepemimpinan Soekarno dan Soeharto, ironisnya Sutami dikenal sebagai sosok menteri paling miskin di era tersebut, bahkan sampai sekarang. Dedikasi untuk membangun bangsa dari beliau merupakan totalitas tanpa batas. Membatasi diri dari kepentingan di luar kewenangan merupakan manifestasi pribadi yang membentuk karakter beliau menjadi menteri terjujur yang dikenal bangsa.

Di umur yang terhitung belia, 36 tahun, Insinyur Sutami telah dipercaya oleh Soekarno untuk menjabat sebagai Menteri Negara urusan Penilaian Konstruksi. Rekam jejak beliau lah yang menghantar kepercayaan Soekarno untuk memilihnya di usia yang muda untuk bergabung dengan kabinet Dwi Kora pada saat itu.

Baca Juga  Mbah Lindu Membuat Gudeg di Usia Senja

Beliau sempat bergabung dalam Perkumpulan Insinyur Indonesia yang membenahi jalan-jalan yang rusah berat di Jakarta, yang mengalihkan pandangan Soekarno kepada beliau. Pun ikut mencetuskan lahirnya Fakultas Teknik Universitas Indonesia, merupakan achievement Insinyur Sutami sebelum tergabung dalam kabinet.

Baca Juga: Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Menteri Brilian Yang Tak Mampu Bayar Tagihan Listrik

Hikayat Menteri Miskin Yang Membangun Indonesia
kitapastibisa.id – Gedung DPR-RI yang menjadi salah satu ikon negara juga turut dibangun di bawah pengawasan Ir Sutami. Foto: web DPR.go.id

Dengan tangan dinginnya, terbangunlah jembatan Semanggi yang hingga kini menjadi ikon monumental DKI Jakarta. Melalui jembatan ini lah, teknologi prestressed concrete pertama kali diperkenalkan dan dipergunakan di Indonesia. (red: struktur panjang yang tidak menggunakan penyanggah).

Meskipun menjadi polemik pada saat itu, karena keraguan akan daya tahan dari struktur yang dipergunakan, Insinyur Sutami bergeming. Beliau membuktikan kekokohan dari struktur yang dibangun dengan melaluinya sendiri menggunakan mobil jeep. Soekarno jatuh hati pada keberanian dan kenekadan beliau sebagai anak muda yang mampu membuktikan perkatannya.

Di era kepemimpinan Soeharto, Insinyur Sutami dipercaya untuk memimpin kementerian pekerjaan umum selama 12 tahun. Jabatan terlama yang dipegang oleh seseorang di era Orde Baru. Sejumlah proyek negara dibangun di bawah kepemimpinan beliau di Kementerian Pekerjan Umum.

Baca Juga  Nasi Tumpeng dan Cerita Di Baliknya
Hikayat Menteri Miskin Yang Membangun Indonesia
kitapastibisa.id – Hikayat Menteri Miskin Yang Membangun Indonesia

Namun ironi kemapanan pejabat negara juga mengikuti langkah dan dedikasi beliau selama menjabat. Sutami tidak pernah mengecap mewahnya kehidupan sebagai seorang menteri, atau bahkan sekadar mapan. Kejujuran dan menghindari tabiat aji mumpung selalu diemban beliau dalam melaksanakan tugas negara.

Cerita mengenai tagihan listrik rumah beliau yang pernah tak terbayarkan semasa menjabat sebagai menteri menjadi legenda tentang kejujuran. Seorang menteri yang hidup dalam keprihatinan sungguhlah sebuah tolok ukur yang sampai sekarang belum bisa diikuti oleh pejabat manapun.

Hingga akhir hayatnya, Ir Sutami menggunakan fasilitas yang diberikan negara hanya sebatas kepentingan dinas selama menjabat saja. Rumah pribadi yang tak beda dengan rumah rakyat jelata pada umumnya, pun bisa dimiliki dengan cara mencicil. Kesan mewah rumah pejabat tak tampak pada bentuk fisik rumah dengan genteng yang bocor dan dinding yang mengelupas.

Menjadi Miskin Saat Tak Lagi Menjabat

Hidup dengan sangat sederhana merupakan prestasi hidup beliau di balik fenomena gedung, jembatan maupun waduk yang dibangun di masanya.

Baca Juga  Dindin Komarudin, Tempat Pulang Anak Punk Jalanan Jakarta

Dengan semua spektrum keistimewaan yang bisa saja dipergunakan beliau selama menjadi menteri, Ir Sutami lebih memilih untuk hidup sebagai jelata. Tak mampu berobat hingga kurang gizi menjadi keseharian yang mengisi masa-masa akhir hayatnya. Menolak untuk berobat ke rumah sakit karena kekurangan biaya, beliau memilih menahan sakit yang diderita.

Hingga akhirnya pemerintah mengintervensi dan memaksa Ir Sutami untuk segera masuk rumah sakit, namun ketahanan tubuh serta energi yang terkuras selama menjabat harus berkata lain. Pada tanggal 13 November 1980, Indonesia kehilangan salah satu anak bangsa yang begitu besar warisannya kepada negara.

Insinyur Sutami merupakan standar pejabat yang mungkin tak bisa diikuti oleh orang lain. Nama beliau dijadikan nama Bendungan di Karangkates, Kabupaten Malang oleh Soeharto sebagai bentuk penghormatan. Anak bangsa yang tak akan terlupakan. Menolak dimakamkan sebagai pahlawan, bahkan di liang lahat, Ir Sutami masih ingin bersama

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *