Inilah Yang Jarang Disadari Orang Ketika Lebaran

 Inilah Yang Jarang Disadari Orang Ketika Lebaran

kitapastibisa.id – Hal Yang Jarang Disadari Orang Ketika Lebaran

Lebaran telah berlalu, setelah 30 hari menahan diri dari segala dorongan kemanusiwian. Hari raya Idul Fitri menjadi hari yang membahagiakan untuk semua orang. Selain diberkahi dengan kondisi suci, kelengkapan anggota keluarga juga keberkahan yang patut disyukuri.

Hikmah Yang Diambil Dari Lebaran

Namun yang lebih utama dari rasa syukur atas keberkahan yang kita terima adalah menjaga ambang batas kemanusiwian. Supaya tetap rendah dan tidak hanya hingga lebaran tahun depan, tapi hingga akhir hayat kita nanti. Jika kita bisa menjaga ambang batas kemanusiawian kita tetap rendah, artinya kita benar-benar belajar dan memperbaiki diri.

Sebaliknya, jika ambang batas kemanusiawian kita tidak ada perubahan, maka boleh dicurigai bahwa selama ini Idul Fitri yang terulang setiap tahunnya terjatuh pada lubang selebrasi tanpa makna. Kita tidak pernah belajar menata diri sama sekali, kondisi ini dapat menyebabkan kita selalu mengulangi kesalahan yang sama setiap tahunnya.

Bahkan mempersempit piranti pemaafan kita terhadap orang lain. Pada kesempatan yang kurang beruntung, pengulangan kesalahan yang sama kerap terjadi secara tidak sadar, baik itu oleh anggota keluarga yang muda ataupun yang lebih dewasa. Sehingga, lebaran sesekali memperlihatkan fenomena “usia tidak berbanding lurus dengan kedewasaan.”

Baca Juga  Menjaga Daya Tahan Tubuh Agar Tetap Sehat

Alih-alih menjadi momen yang menenangkan, melegakan dan nyaman, lebaran kerap menjadi momen yang bising. Entah karena semua anggota keluarga membolehkan intervensi gawai saat kumpul keluarga, atau entah karena tagihan status apapun (kedewasaan, hubungan, nasib, dll.) yang diartikulasikan lewat pertanyaan sindiran terhadap hal-hal privat.

Apa Dampak Dari Pertanyaan Ataupun Sindirian Tersebut?

Implikasinya, akan selalu ada anggota keluarga yang terluka, dan akan selalu ada bara dalam sekam. Dalam skenario yang seperti itu, lebaran masih dicampuri oleh sifat-sifat kemanusiawian. Sementara itu kita tau bahwa sifat kemanusiawian saat ini bersemayam di tiga drama kehidupan: story whatsapp, harta warisan dan status sosial.

Kadang, drama-drama ini diterima begitu saja dan dianggap normal karena halusinasi ‘imbalan’ (harga diri, kekayaan, prestis, dll.) yang ditawarkannya, sehingga pengotor lebaran seperti ketamakan, mistifikasi diri dan prejudis sepihak luput kita singkirkan. Dampaknya, ketidak-hati-hatian sikap dalam menghormati lebaran mengalir tanpa disadari.

Akhirnya, dalam beberapa situasi, kita mudah terjebak pada batas abu-abu antara syukur dan ingar-bingar, antara berkumpul dan being-alone together, antara menghormati lebaran dan mempertegas ketimpangan sosial. Potretnya dapat ditemukan di banyak tempat: di ruang tamu, antara anak dan orang tua dengan grup daringnya masing-masing; antara kacamobil dan gelas air mineral penadah koin di jalanan; dan lain-lain.

Baca Juga  Manfaat Madu Untuk Kesehatan Tubuh

Setiap orang punya lebaran yang berbeda-beda, dan tidak semuanya beruntung. Namun ini bukan berarti kecuekan terhadap perbedaan itu diperbolehkan karena tenggelamnya kita pada kebahagiaan selebrasi keluarga inti.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *