Ikhtiar dan Tawakal dalam Tembang Asmarandana

 Ikhtiar dan Tawakal dalam Tembang Asmarandana

Kitapastibisa.id – Ikhtiar dan Tawakal dalam Tembang Asmarandana – Negeriku

Ikhtiar dan Tawakal dalam Tembang Asmarandana – Seperti halnya pada wabah-wabah lainnya ataupun bencana yang menimpa umat di seluruh dunia yang bersifat misterius, wabah Corona hadir sepaket dengan mitos dibelakangnya. Baik berupa anggapan bahwa semua itu azab dari Tuhan, kualat sebagai bentuk hukuman akibat dari segala tindakan buruk. Hingga peringatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan seterusnya.

Dalam perspektif tradisi budaya Jawa, hal tersebut berkaitan dengan konsepsi jagat cilik atau mikrokosmos dengan jagat gedhe atau makrokosmos yang bersifat wengku-winungku atau saling menopang. Dalam istilah Mark R. Woodward, sejalan dengan konsep di atas, salah satu prinsip utama dalam pemikiran keagamaan Jawa adalah segala sesuatu yang ada itu tersusun dari wadah dan isi (Woodward 1999: 104).

Artinya, alam semesta, bentuk, fisik tubuh, dan kesalehan normatif – dalam hal ini menjalankan rangkaian dari rukun Islam maupun rukun iman – seluruhnya adalah representasi dari konsep wadah. Sementara itu, Allah, Sultan, kadar keimanan, nafsu, dan mistisisme, semua adalah representasi dari konsep isi. Dalam perjalanannya, dua konsep tersebut saling menopang. Mesk demikian, lanjut Woodward, seringkali keduanya berjalan secara kontradiktif.

Baca Juga  Angelina Jolie dan Brad Pitt Kembali Berseteru

Di masa silam, terdapat sebuah pupuh tembang Asmarandana, yang menyimpan pesan kepada setiap manusia yang sedang dilanda kepanikan akibat peristiwa tertentu. Secara umum, isi dari tembang ini adalah kisah-kisah cinta, baik hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, maupun manusia dengan Tuhan. Salah satunya adalah tembang yang berjudul aja turu sore kaki.

Aja turu sore kaki

Ana dewa nganglang jagat

Nyangking bokor kencanane

Isine donga tetulak

Sandhang kalawan pangan

Ya iku bageanipun

Wong melek sabar lan nrima

Tembang Asmarandana 6

Baca Juga: Atlet Difabel Yang Berprestasi dan Menginspirasi

Penjelasan terkait tembang Asmarandana

Pada bait pertama, secara harfiah memiliki arti jangan tidur terlalu awal atau dini. Maksudnya, jangan tergesa-gesa masuk dalam alam tidur. Dalam konteks ini, tidur tidak hanya dipahami sebatas memejamkan mata. Lebih dari itu, janganlah memejamkan kesadaran kita akan kondisi diri sendiri dan sekeliling.

Kita harus berusaha untuk setidaknya mencegah tersebarnya wabah tersebut dengan waspada. Serta mengikuti segala himbauan yang ada seperti yang telah dijelaskan di atas dan senantiasa berdoa kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Jika kita merasakan gejala-gejala, segeralah mendatangi lembaga kesehatan terdekat. Dalam perspektif Islam, tingkatan ini merupakan ikhtiar yang wajib dilakukan oleh setiap manusia.

Baca Juga  3 Kesalahan Pemain Sepak Bola Dunia yang Berujung Kekalahan

Pada bait selanjutnya, yakni bait kedua, Ana dewa nglanglang jagat (karena ada dewa yang mengelilingi alam raya); ketiga, Nyangking bokor kencanane (Ia akan menenteng bokor emasnya); keempat, Isine donga tetulak (Yang berisi doa penolak untuk bala’); dan Sandhang kalawan pangan, (Juga berisi sandhang dan pangan); dapat kita pahami bahwasannya dalam konteks ini, segala bentuk kesembuhan ataupun terhindarnya kita dari wabah Corona tersebut merupakan hak prerogatif dari Langit (Allah).

Pada dua bait terakhir, yakni bait keenam, Ya iku bageanipun (Ini adalah bagian); dan bait terakhir, Wong melek sabar lan nrima (Bagi orang yang suka tirakat di malam hari, sabar, dan menerima), memberikan penjelasan bahwa setelah kita telah berusaha untuk melakukan ikhtiar dengan pencegahan terhadap wabah dan senatiasa berdoa kepada Allah. Maka tibalah kita pada tingkatan sabar dan menerima atas segala yang telah terjadi.

Itulah yang disebut tawakal. Menerima dengan ridha serta rela atas setiap keputusan serta ikhlas terhadap apapun yang telah Allah tetapkan pasti sebenarnya untuk kebaikan kita. Dalam perspektif Islam, tingkatan tawakal hadir setelah ikhtiar dilaksanakan terlebih dahulu.

Baca Juga  Filosofi Pakaian Adat Melayu Dari Pulau Penyengat

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *