Hukum Salat Berjamaah dengan Social Distancing

 Hukum Salat Berjamaah dengan Social Distancing

Kitapastibisa.id – Hukum Salat Berjamaah dengan Social Distancing – Lamuri

Hukum Salat Berjamaah dengan Social Distancing – Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengeluarkan fatwa perihal peribadatan di tengah pandemi. Hal tersebut tertuang dalam Fatwa Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Jamaah untuk Mencegah Penularan Wabah Covid-19 di Jakarta, pada Kamis (04/06), 2020.

Selepas fatwa tersebut, ramai masyarakat Indonesia yang kembali menyelenggarakan salat berjamaah. Tak hanya salat Jumat, namun juga salat wajib lima waktu di masjid. Meski kembali diselenggarakan, salat berjamaah tetap harus mematuhi protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemertintah,

Protokol kesehatan yang harus dipatuhi jemaah antara lain menggunakan masker, membawa alas salat sendiri, menjaga jarak ketika salat, dan menjaga kesehatan. Selain itu, imam dianjurkan untuk membaca surat yang pendek. Beberapa wilayah menerapkan aturan lokal berupa masjid yang diperuntukkan hanya untuk warga sekitar.

Melalui protokol tersebut, timbul sejumlah pertanyaan. Apakah boleh menggunakan masker saat salat? Bagaimana dengan anjuran merapatkan saf ketika salat? Apakah bagaimana dengan keutamaan salat berjamaah dengan social distancing?

Baca Juga: Mustajabnya Doa Orang Tua Pada Anaknya

Baca Juga  Kedai Subway, Dari Kedai Nomor Satu hingga Bangkrut

Keutamaan Salat Berjamaah

Bagi umat muslim, salat berjamaah memiliki keutamaan yang sangat besar. Tak hanya melipatgandakan pahala, salat berjamaah di masjid juga menghapuskan dosa. Hal tersebut sesuai dengan hadis dari Abu Hurairah, ketiak beliau mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Shalat seseorang dalam jama’ah memiliki nilai lebih 20 sekian derajat daripada shalat seseorang di rumahnya, juga melebihi shalatnya di pasar. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara mereka berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi masjid, tidaklah mendorong melakukan hal ini selain untuk melaksanakan shalat; maka salah satu langkahnya akan meninggikan derajatnya, sedangkan langkah lainnya akan menghapuskan kesalahannya. Ganjaran ini semua diperoleh sampai dia memasuki masjid. Jika dia memasuki masjid, dia berarti dalam keadaan shalat selama dia menunggu shalat. Malaikat pun akan mendo’akan salah seorang di antara mereka selama dia berada di tempat dia shalat. Malaikat tersebut nantinya akan mengatakan: Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya. Hal ini akan berlangsung selama dia tidak menyakiti orang lain (dengan perkataan atau perbuatannya) dan selama dia dalam keadaan tidak berhadats. ”

Baca Juga  Bersedekah Setiap Hari dengan Salat Duha

Hadis tersebut menyampaikan bahwa pahala seorang muslim yang pergi salat berjamaah dihitung sehak mereka mengambil wudhu dari rumah. Setiap langkah kakinya akan menghapuskan dosa hamba tersebut hingga ia akhirnya mereguk keutamaan salat itu sendiri. Hadis tersebut juga menyampaikan bahwa malaikat senantiasa mendoakan orang-orang yang salat di masjid.

Hukum Darurat

Lantas, apakah salat berjamaah dengan menerapkan social distancing akan mengugurkan keutamaannya? Dilansir dari kompas.com Dosen Fakultas Syariah Universitas Darussalam, Gontor Dr Mulyono Jamal, memberikan pendapatnya. Ia mengatakan, jika dalam kondisi darurat maka suatu perkara yang sebelumnya tidak dibolehkan dapat dilaksanakan.

Adh-Dharuratu tubihu al-mahdhurat. Kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang,” kata Mulyono.

Dhoruroh atau darurat merupakan sebuah perkara yang jika tidak dihindari, maka ia berpotensi terkena bahaya yang mengancam jiwanya. Ini berbeda dengan istilah hajat yang artinya sesuatu hal yang jika ditinggalkan, masih bisa digantikan meski mendatangkan bahaya. Ini sekaligus menjelaskan perkara menggunakan masker saat salat dan merenggangkan saf saat salat.

Baca Juga  Wisko Pralistra, Anak Sopir Truk Terpilih Jadi Paskibraka Nasional

Hukum dasar meluruskan dan merapatkan saf menurut sebagian besar ulama adalah sunnah. Sedangkan dalam pandangan beberapa ulama lainnya adalah wajib. Beberapa ulama yang mewajibkannya mengacu pada hadis riwayat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hendaknya kalian meluruskan saf kalian atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” (HR. Bukhari, no. 717 dan Muslim, no. 436).

Begitu juga dengan menggunakan masker saat salat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menutup mulutnya ketika shalat.” (HR. Abu Daud, no. 643 dan Ibnu Majah, no. 966. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan).

Kedua perkara tersebut dibolehkan mengingat wabah covid-19 adalah kondisi darurat. Menurut Mulyono, sesuai dengan kaidah kedaruratan tersebut, maka keutamaannya tidak hilang.

“Dengan menerapkan kaidah ushul fikih tersebut berarti tak mengurangi keutaman shalat berjamaah meski dilakukan dengan menerapkan physical distancing,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *