Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram?

 Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram?

Kitapastibisa.id – Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram? – Bobo

Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram? – Pria itu membopong senapan angin di pundaknya. Ia kemudian menyusuri hutan kecil yang terletak tidak jauh dari pekarangan tempat ia dan keluarganya tinggal. Di belakangnya, sekelompok pria paruh baya mengikutinya sambil mendongak ke arah pohon.

Mata mereka menjamah seluruh penjuru hutan itu. Tiap gerak-gerik kecil membuat bola mata mereka bergerak cepat ke arah sumber suara. Senapan angin yang ada di pundak-pundak mereka kemudian bersedia pada tempatnya.

Kala bajing berhenti melompat, dalam sekian detik ia jatuh terkapar tepat setelah bunyi tembakan terdengar. Rombongan pria itu kemudian menghampiri hewan buruannya. Dengan wajah semringah, mereka pulang dengan bayangan wajah keluarga mereka penuh suka cita.

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Belitung untuk berburu tupai. Di Gunung Tiong, misalnya. Warga kerap menjadikan hewan pengerat itu sebagai menu makan mereka. Menurut warga Belitung, rasa daging tupai mirip seperti daging ayam. Namun agak sedikit kenyal dan lebih manis.

Biasanya, tupai diburu hanya untuk makan sampingan, bukan pokok. Nilai yang dianut oleh warga Belitung adalah kebersamaan dalam berburu dan kebersamaan menyantap hewan buruannya. Mereka jarang memperjual daging tupai hasil buruannya dan lebih senang untuk mengonsumsinya bersama keluarga.

Baca Juga  Menyikapi Corona Dalam Pandangan Islam

Meski memiliki rasa yang mirip dengan ayam, sebagian orang muslim sangsi akan hukum memakan daging tupai. Sepintas, hewan itu memiliki taring dan terkesan buas lantaran kerap menggigit. Hal itu kemudian menimbulkan pertanyaan, halal kah daging tupai?

Baca Juga: Merebut Gurihnya Ayam Geprek Bensu

Perbedaan Pendapat Pada Hukum Memakan Daging Tupai

Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram?
Kitapastibisa.id – Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram? – cookpad

Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, memakan daging tupai hukumnya adalah haram. Hewan pengerat yang biasa hidup di atas pohon ini dinilai memiliki taring sehingga ia termasuk dalam ciri-ciri hewan yang tidak boleh dimakan. Hal ini disampaikan oleh Abu Yusuf, ulama mahzab Hanafi dalam Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzu ad-Daqaiq.

“Tupai tidak boleh dimakan karena bertaring sehingga masuk dalam keumuan hadits Nabi yang mengharamkan semua binatang yang bertaring,”

Hal tersebut besumber dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap binatang buas yang bertaring,”

Namun, terdapat pandangan lainnya yang membolehkan umat muslim untuk memakan daging tupai. Dalam mahzab Syafi’i dan mazhab Maliki, memakan tupai dihukumi mubah atau boleh. Mahzab Maliki mengacu pada firman Allah yang berbunyi,

Baca Juga  Cara Menghadapi Orang Yang Munafik

“Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi— karena sesungguhnya semua itu kotor—atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah”(QS. Al-An’am: 145)

Menurut mereka, larangan memakan hewan bertaring adalah makruh dan bukan termasuk dalam golongan hewan buas. Menurut Imam Nawawi, dalam Fatwa asy-Syabakah al-Islamiyah, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Khalil, dan al-Mawardi, berpendapat bahwa daging tupai adalah halal.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam kasus ini mengatakan bahwa daging tupai boleh dimakan dengan syarat ia bukan hewan dilindungi. Mengacu pada Fatwa Nomor 48 Tahun 2019 tersebut, bajing atau tupai merupakan hewan yang halal untuk dikonsumsi (ma’kulal lahm) dengan syarat disembelih secara syar’i.

Halalkah Daging Tupai yang Ditembak dengan Senapan Angin?

Sebelumnya dibahas bahwa daging tupai halal jika disembelih dengan cara yang syar’i. Lantas, jika hewan buruan tersebut mati karena tembakan senapan angin, apakah daging tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi?

Dalam kasus ini, terdapat sebab haramnya hewan buruan. Dilansir dari dakwah.id, hewan buruan menjadi haram ketika ia mati karena benda tumpul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga  Apa Itu Kecerdasan yang Sia-Sia?

“Apabila (hewan buruan) tersebut terkena benda (lalu mati), maka janganlah kamu memakannya, karena ia adalah waqidz (hewan yang terbunuh dengan benda tumpul).” (HR. Al-Bukhari, 7/11)

Ini menjelaskan bahwa Islam melarang umatnya untuk berburu menggunakan benda tumpul. Senapan angin di lain sisi, bukanlah benda tumpul jika memang menggunakan peluru tajam. Jika peluru tersebut tumpul, maka tetap dihukumi haram.

Jika hewan tersebut kena peluru tumpul dan belum mati, maka dianjurkan untuk disembelih terlebih dahulu. Itu pun masih tidak dibenarkan lantaran dinilai menyiksa binatang.

Berburu dengan senapan angin perlu dilakukan secara syar’i agar hewan buruannya halal. Dalam hal ini, benda apapun (asalkan tajam) dapat dimanai sebagai alat untuk menyembelih, termasuk senapan angin. Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“(Alat) apa saja yang dapat mengalihkan darah dan disebut Nama Allah (pada saat menyembelih) maka makanlah (sembelihan itu).” (HR. al-Bukhari no. 5503, HR. Muslim no. 1968)

Pemburu harus menyebut nama Allah atau melantunkan kalimat basmalah sebelum menembak hewan buruan. Dengan demikian, syarat sembelih secara syar’i dapat terlaksana.

Artikel Terkait

1 Comment

  • Terimakasih atas informasinya
    Sangat bermanfaat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *