Hukum Giat Beribadah Namun Malas Bekerja

 Hukum Giat Beribadah Namun Malas Bekerja

Kitapastibisa.id – Giat Beribadah Malas Bekerja – Okezone

Hukum Giat Beribadah Namun Malas Bekerja – Giat bekerja dan malas beribadah menjadi kasus yang lazim ditemukan. Hal ini menandakan bahwa seseorang tidak menjadikan agamanya sebagai prioritas mereka. Sibuk dalam mengejar karier dan harta membuat waktunya untuk mengingat Allah menjadi kurang.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyukai orang-orang yang seperti itu. Mereka yang sibuk mengejar angan-angan dunia tidak akan mendapat bagian–amala saleh– di akhirat kelak. Namun, Allah akan membalas seluruh upaya dan usaha mereka di dunia. Sebagaimana Firman-Nya,

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Q.s. Hûd [11]: 15-16).

Menanggapi kasus di atas, maka urusan agama perlu diutamakan. Dalam hadis dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga  Kenapa Islam Melarang Umatnya Menganggur?

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Lantas, bagaimana dengan orang yang giat beribadah dan malas bekerja?

Baca Juga: Sedihmu Yang Akan Hapuskan Dosamu

Malas Bekerja Berbeda dengan Tawakal

Meski menjalankan perintah menjadi prioritas, bukan berarti urusan pekerjaan dapat dilalaikan. Lalai dalam bekerja boleh jadi dalam bentuk malas, menjadi pengangguran atau tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan.

Sebagaimana hadis sebelumnya menjelaskan, Allah akan membalas usaha seorang hamba sesuai dengan usaha mereka. Dalam surat Ath-Thala1 Allah ta’ala berfirman,

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7).

Baca Juga  Pesan Agama Islam untuk Mereka yang Gemar Berkhayal

Bekerja dalam konteks agama Islam merupakan upaya dalam mencari nafkah dan mencari penghidupan. Bekerja niat untuk mencari nafkah dan beribadah tentu dinilai sebagai pahala. Dengan demikian, pandangan untuk mengutamakan ibadah kemudian melalaikan pekerjaan merupakan kurang tepat.

‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib beri nafkah.” (HR. Abu Daud, no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)

Lalai dalam bekerja berbeda dengan tawakal. Adalah berdosa jika lalai diri dari mencari nafkah. Meski Allah menjamin rezeki seseorang, namun ia harus tetap mengejarnya. Rasulullah pernah mengumpamakan mencari rezeki sebagaimana burung mencari makan di pagi hari dan pulang dengan keadaan kenyang. Begitu juga manusia.

Islam juga mengajarkan untuk menunaikan amanah yang telah diberikan. Dalam konteks pekerjaan, maka amanah adalah apa yang diberikan untuk kita kerjakan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tunaikanlah amanat pada orang yang memberikan amanat padamu dan janganlah mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Daud, no. 3535;  Tirmidzi, no. 1264; dan Ahmad 3:414, shahih).

Baca Juga  Kisah Inspiratif Presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie

Artikel Terkait