Hukum Bermulut Kasar Namun Berhati Baik Dalam Islam

 Hukum Bermulut Kasar Namun Berhati Baik Dalam Islam

Kitapastibisa.id – Hukum Bermulut Kasar namun Berhati Baik dalam Islam – Republika

Hukum Bermulut Kasar Namun Berhati Baik Dalam Islam – Akhir-akhir ini, ramai perbincangan tentang sifat seseorang yang bermulut kasar namun berhati baik. Ungkapan ini seakan menjelaskan bahwa kata-kata kotor dan kasar yang keluar dari mulut tidak bisa jadi aspek untuk menilai seseorang. Boleh jadi, ia memiliki hati yang baik padahal sering berucap kasar.

Sebaliknya, ada orang yang berhati kotor namun ucapannya manis dan santun. Tak sedikit orang yang menganggap mereka memiliki hati yang busuk, bahkan sebagai orang munafik. Lantas, bagaimana pandangan Islam dalam kasus tersebut?

Menanggapi hal tersebut, mari kita sama-sama mengingat salah satu firman Allah ta ala dalam surat Al-Hadid ayat 6. Allah berfirman,

“Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati seseorang. Lantas, pantaskah seseorang menilai isi hati orang lain?

Baca Juga: Adab Berpakaian dalam Islam Beserta Penjelasan

Cara Islam Menanggapi Fenomena Tersebut

Allah subhanahu wa ta’ala Maha Adil dalam memberikan balasan. Baik itu balasan kebaikan ataupun keburukan. Sebagaimana firman Allah surat Luqman ayat 16,

Baca Juga  Tata Cara dan Rahasia Keutamaan Salat Dhuha

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Berlandaskan ayat tersebut, Allah ta’ala akan membalas seluruh perbuatan kita. Tak terkecuali ucapan kita. Oleh karenanya, terdapat beberapa hal yang perlu kita ketahui dalam menghadapi fenomena ini.

1. Bahwa Setiap Perbuatan dan Ucapan Ada Balasannya

Pertama, Allah ta’ala akan membalas ucapan kita, termasuk yang buruk ataupun yang baik. Hal ini kemudian menjadi pelajaran bagi kita sebagai umat muslim untuk menanggapi fenomena ini.

Bahwa, meski kita perlu berhati-hati dengan ucapan. Karena kita tidak mengetahui isi hati seseorang. Nabi bersabda,

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari no. 6478)

Selain itu, seorang hamba yang bertakwa kerap menjaga lisannya. Hati mereka mencerminkan apa yang keluar dari mulut mereka.

Baca Juga  Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram?

2. Kita Tidak Mengetahui Isi Hati Orang Lain

Kedua, perlu diketahui bahwa hati adalah urusan Allah subhanahu wa ta’ala. Kita sebagai manusia dengan segala keterbatasan tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui isi hati. Ihwal urusan hati, mari kita mengingat kisah sahabat yang hendak membunuh seorang kafir yang telah bersyahadat.

Dalam Kitab ad-diyat no. 6872, terdapat kisah antara Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasul melarang Usamah bin Zaid untuk membunuh orang yang telah melafalkan kalimat syahadat. Kala itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata,

“Kenapa engkau tidak membelah dadanya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlas ataukah karena alasan lainnya?”

Maksud perkataan Nabi adalah kita tidak mengetahui isi hati orang lain. Baik mereka yang berkata kasar atau pun baik, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi hati mereka. Lantas, sudah sepatutnya kita tidak berprasangka buruk kepada orang lain.

Hikmah: Orang Berhati Baik, Tidak Berkata Buruk

Kita tidak tahu apa keadaan hati seseorang. Oleh karenanya, janganlah kita cepat menilai seseorang melalui satu atau dua perangai yang ia lakukan. Allah subhanahu wa ta’ala menyebut prasangka sebagai perbuatan dosa. Allah ta’ala berfirman,

Baca Juga  Hukum Salat Berjamaah dengan Social Distancing

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain.” (Al-Hujurat : 12)

Namun, terdapat ciri-ciri orang dengan hati yang baik. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta”

Terdapat banyak dalil baik dalam Al Quran maupun hadis yang menyampaikan perihal menjaga lisan. Ini artinya, bahwa orang yang bertakwa senantiasa menjaga lisannya dari perkataan buruk.

Sehingga, orang berhati baik namun bermulut kasar adalah sebuah paradoks. Bahwa kebaikan dan keburukan tidak akan bersatu

Artikel Terkait