Hukum Berburuk Sangka Kepada Allah

 Hukum Berburuk Sangka Kepada Allah

Kitapastibisa.id – Hukum Berburuk Sangka Kepada Allah – Kumparan

Hukum Berburuk Sangka Kepada Allah – Berprasangka adalah sifat alamiah manusia. Yang menjadi persoalan adalah kemana prasangka itu ditujukan. Apakah kepada kebaikan? Atau sebaliknya, berprasangka buruk?

Islam sebagai agama mengatur segala aspek kehidupan umatnya. Aturan diciptakan agar umat muslim hidup dalam keseimbangan dan keadilan. Termasuk salah satunya soal berprasangka. Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata,

“Sesungguhnya Allah berkata : Aku sesuai prasangka hambaku padaku. Jika prasangka itu baik, maka kebaikan baginya. Dan apabila prasangka itu buruk, maka keburukan baginya.” (HR. Muslim no. 4849)

Prasangka merupakan gerbang bagi seorang muslim. Gerbang itu mengantarkan kemana ia akan pergi dan apa yang akan ia terima ke depannya. Islam mengajarkan untuk terus berbaik sangka. Baik kepada makhluk atau kepada Allah.

Hasan Al-Basri radhiallahu anhu mengatakan bahwa prasangka menuntun manusia kepada kebaikan atau keburukan. Beliau berkata,

“Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga dia melakukan amal keburukan.” (HR. Ahmad no. 1812)

Baca Juga  Biasakan Menabung untuk Keperluan Mendesak

Mungkin sebagian besar dari kita paham bentuk dari berburuk sangka kepada manusia. Namun, masih ada sebagian yang bingung dengan berburuk sangka kepada Allah. Seperti apakah bentuknya?

Baca Juga: Definisi Zina Beserta Jenis-jenis Zina

Bentuk Berburuk Sangka Kepada Allah

Allah menyebut sebagian prasangka adalah dosa. Sebagaimana Firman Allah ta’ala,

“Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Bentuk berburuk sangka kepada Allah adalah meragukan ayat-ayat suci Alquran dan anjuran hadis. Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah menyontohkan dalam Syarah Riyadush Shalihin dengan kalimat,

“Ada orang berkata: Jangan kalian punya banyak anak, nanti rizki kalian menjadi sempit.”ㅤㅤ

Ibnu Utsaimin menyebut kalimat itu adalah salah satu bentuk dari berburuk sangka kepada Allah. Mengapa? Karena Allah-lah yang memiliki kehendak untuk membatasi dan melapangkan rezeki seseorang. Selain itu, banyak anak merupakan anjuran dalam agama sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187,

Baca Juga  Keris Senjata Tradisional Indonesia

“ …dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu (yaitu anak)”

Meragukan anjuran dan perintah merupakan bentuk dari berburuk sangka kepada Allah. Meski demikian, pengartian anjuran tersebut tidak dapat secara terpisah. Hadis-hadis pendukung seperti mendidik anak dan mencari nafkah, serta niat yang lurus perlu ditegakkan.

Sebagai kesimpulan, kita sebagai muslim seharusnya berprasangka baik pada anjuran serta perintah agama. Termasuk dalam kondisi pandemi. Jika agama menganjurkan untuk beribadah dari rumah dan tidak keluar rumah, maka sepatutnya kita mengikutinya. Sebuah kekeliruan jika kita meragukan anjuran tersebut.

Artikel Terkait