Guilt Trip, Tanda Hubungan Asmara Tak Sehat

 Guilt Trip, Tanda Hubungan Asmara Tak Sehat

Kitapastibisa.id – Guilt Trip, Tanda Hubungan Asmara Tak Sehat

Guilt Trip, Tanda Hubungan Asmara Tak Sehat – “Yaudah, kalau kamu enggak mau, enggak apa-apa. Katanya kamu sayang sama aku,” ucap sang laki-laki kepada kekasihnya.

Mendengar pernyataan tersebut, sang gadis pun terdiam. Pikirannya berkelana jauh pada seluruh kenangan bersama si dia. Terekam betul dalam ingatannya, pacarnya rela hujan-hujanan demi menjemput dirinya. Tak hanya itu, ribuan kata-kata cinta membanjiri isi kepalanya. Merasa ‘enggak enak’ sama si dia, akhirnya si gadis mengamini permintaan si gadis dengan satu anggukan sayu.

“Begitu, dong. Kamu matahariku, aku sayang kamu,” si laki-laki membalas anggukan sang gadis dengan rentetan kalimat asmara.

Tak tahu apa yang dirasakan, sang gadis kelimpungan. Entah mau senang atau sebaliknya. Perasaan bersalah dan tidak tega menghantui dirinya. Meski apa yang dipinta sang kekasih bukanlah hal yang dirinya senangi, tapi ia tak sampai hati menolak keinginannya.

“Dia sudah baik banget sama aku,” gumamnya dalam hati.

Pernah kah Anda berada dalam kondisi tersebut? Tanpa kita sadari, kejadian di atas pernah terjadi dalam hidup kita. Entah sebagai sang laki-laki atau sang gadis dalam kisah tersebut. Umumnya, sebagian besar orang akan berkata bahwa kejadian tersebut bisa jadi sebuah bentuk pengekangan, atau dalam bahasa gaul disebut posesif. Ada pula sebagian yang mengatakan bahwa si laki-laki pintar memanipulasi pacarnya hingga ia mau menuruti keinginannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Baca Juga  Tips Sehat Menurunkan Kadar Kolesterol Tubuh

Kasus di atas adalah bentuk umum dari apa yang disebut guilt trip atau dalam bahasa Indonesia ‘perjalanan kesalahan’. Melansir dari psychology today, perjalanan kesalahan ini merupakan bentuk komunikasi baik verbal maupun non-verbal yang ditujukan untuk membuat lawannya merasal bersalah. Kalimat seperti “aku sudah berkorban banyak untuk kamu, sekarang kamu tidak mau mengikuti keinginanku?” menjadi salah satu tanda dari perjalanan kesalahan ini.

Untuk mengetahui perilaku tersebut, akan lebih mudah jika melihat dari sisi korban. Kira-kira, apa ciri-ciri korban guilt trip?

Ciri-ciri Korban ‘Perjalanan Kesalahan’

Korban dari perjalanan kesalahan memiliki ciri-ciri umum. Melansir dari starglammagz.com, beberapa tanda yang dialami korban adalah terus merasa bersalah pada pelaku, selalu merasa mengecewakan pelaku, selalu dibandingkan dengan orang lain, banyak syarat yang harus dipenuhi, hingga pada akhirnya sulit berkata tidak.

Sepintas, seluruh ciri-ciri tersebut adalah hal yang lazim dalam sebuah hubungan asmara. Merasa kecewa dan bersalah pada pasangan adalah hal yang biasa, bahkan sebagian orang berpikiran bahwa itu hal yang baik demi menjaga kelanggengan hubungan. Namun dari ciri-ciri tersebut, poin terpenting adalah adanya perasaan bersalah yang terus-menerus.

Baca Juga  Mengatasi Burn Out saat WFH

Dampak dari guilt trip bisa saja sangat menyakitkan. Sayangnya, dampak tersebut tidak bisa dirasakan secara langsung. Bayangkan, Anda berada diminta untuk terus bersama pacar Anda dengan mengabaikan teman-teman, bahkan sahabat Anda. Kekasih Anda akan berdalih “jadi lebih sayang sama sahabat kamu?” sehingga Anda merasa bersalah meninggalkanya, bahkan untuk sekadar pergi dengan teman-teman Anda. Kemudian Anda berpikir bahwa menuruti keinginannya untuk satu atau dua kali adalah hal yang biasa, sampai akhirnya Anda tidak bisa menolak.

Dampak jangka panjang, Anda bisa saja kehilangan sahabat Anda. Lebih parahnya, Anda akan merasa terus tertekan dan terkekang dalam hubungan asmara Anda. Jika Anda sudah mulai merasakan hal tersebut, maka Anda harus waspada. Bisa jadi Anda adalah korban dari guilt trip.

Baca Juga: Mengatasi Burn Out saat WFH

Waspada dengan Guilt Trip

Dampak dari guilt trip memang cukup mengerikan. Lebih mengerikannya lagi, guilt trip tak hanya terjadi dalam hubungan asmara. Perilaku manipulatif tersebut kerap terjadi dalam hubungan pertemanan, lingkungan kantor, bahkan keluarga sekalipun. Jika terus-menerus terjadi pada korban, tak ayal akan timbul rasa benci pada pelaku guilt trip. Lalu, bagaimana cara mengetahui si pelaku?

Dr. Boyke dalam acara televisi Tonight’s Clinic, pernah mengatakan salah satu ciri dari pelaku yakni melakukan bom cinta. Istilah bom cinta digunakan pada orang yang senang memberikan pujian dan menunjukkan sikap baik hati yang begitu memukau. Apakah itu salah? Iya, jika maksud dari perilaku tersebut adalah memanipulasi korban.

Baca Juga  Bahaya Memakai High Heels Terlalu Sering

Pelaku bom cinta akan memberikan perhatian hingga korban akhirnya merasa bahwa si pelaku adalah orang yang paling mengerti dia. Pelaku tak segan menghabiskan banyak uang untuk memikat pujaan hatinya tersebut. Begitu korban lengah, ia akan mulai memanfaatkan keadaan tersebut. Pelaku akan mulai menggunakan guilt trip untuk memenuhi segala keinginannya.

Secara sederhana, ini mirip dengan berinvestasi pada sebuah bisnis. Anda berani merogoh kocek yang dalam untuk sebuah usaha, tentu Anda mengharapkan hasil yang lebih dan setimpal bukan? Namun, guilt trip menggunakan cara yang kotor untuk meraih keinginan mereka dengan membuat korban merasa bersalah. Padahal, bisa korban melakukan apa yang pelaku inginkan tanpa memberikan guilt trip pada mereka.

Terlihat begitu mengerikan, faktanya guilt trip ada di sekitar kita. Namun, jangan serta-merta mengartikan seluruh kebaikan merupakan bibit dari guilt trip. Rantai setan perjalanan kesalahan dapat diputus jika Anda berani untuk berkata tidak pada hal yang menurut Anda tidak baik, meski itu menurut Anda akan menyakiti perasaan lawan bicara Anda.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *