Generasi Tanpa Peduli: Putus Cinta, Empati Pun Lari

 Generasi Tanpa Peduli: Putus Cinta, Empati Pun Lari

Kitapastibisa.id – Generasi Tanpa Peduli: Putus Cinta, Empati Pun Lari – Tempo

Generasi Tanpa Peduli: Putus Cinta, Empati Pun Lari – “Sudah cukup! Habis sudah rasa peduliku untuk wanita!” tegas seorang pemuda yang baru saja putus cinta.

Kalimat tersebut bukanlah hal yang sukar ditemukan di era milenial dewasa ini. Ungkapan berjuta makna itu diselimuti satu alasan besar yang tak lain adalah muak terhadap cinta yang tak terbalas. Lelah, lantaran perjuangan yang kian memeras peluh dan raga itu harus kandas. Imbas putus cinta dari satu wanita, seribu manusia jadi korbannya.

Sungguh sakit rasanya ketika rasa peduli tak mendapat sambutan kasih sayang. Kondisi tersebut membuat diri merajuk akan rasa empati. Dirinya lelah menghabiskan waktunya untuk mengasihani orang lain yang bahkan tidak memberikan ungkapan terima kasih. Ia merasa dirinya telah berbuat banyak, namun tak dapat belas kasih dari orang lain.

Tak ayal, jika kejadian yang seperti itu terus berulang, maka manusia akan kehilangan rasa empatinya. Hal tersebut diamini oleh sebuah studi yang dilakukan peneliti asal Pennsylvania State University, Amerika Serikat. Menurut studi tersebut kebanyakan orang yang kehilangan rasa peduli disebabkan oleh terlalu banyak mengumbar berempati.

Kejadian tersebut lazim disebut sebagai compassion fatigue atau kelelahan dalam berbelas kasih. Kasus tersebut biasa terjadi pada petugas medis yang sehari-harinya memberikan rasa empati pada pasiennya. Ketika seseorang berada dalam kondisi kelelahan dalam berbelas kasih, perilaku yang paling tampak adalah hilang rasa empati. Sosok diri hangat berubah menjadi orang yang dingin dan tidak peduli.

Baca Juga  Kenapa Keturunan Raja Tidak Masuk Daftar Orang Kaya Dunia?

Meski kondisi compassion fatigue kerap terjadi pada orang-orang yang berkecimpung dalam dunia kesehatan, nampaknya perasaan ini merambah ke dalam masyarakat. Menurut Anda, apakah saat ini banyak orang yang tak memiliki rasa empati?

Baca Juga: Rumput Laut dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Krisis Empati Dalam Masyarakat

Sebab lunturnya empati dalam diri seseorang bermacam-macam. Mulai terlalu sering berempati hingga menjadi korban perundungan. Jika diamati, sebab-sebab tersebut kerap terjadi di tengah masyarakat. Hal ini seakan menjelaskan mengapa sebagian orang kehilangan rasa pedulinya terhadap sesama.

Kasus putus cinta, misalnya. Mengumbar rasa peduli pada pasangan adalah hal biasa. Namun, ketika hubungan asmara kandas, tak jarang dari mereka yang kapok untuk memberikan perhatiannya lagi, bahkan pada semua orang. Meski terdengar remeh, hal ini merupakan fakta. Kasus tersebut dapat disamakan dengan orang-orang dalam dunia kesehatan yang mengalami compassion fatigue.

Kasus lainnya, yakni terpapar konten dan tayangan yang mengajak mereka untuk berempati. Sebagian orang berpikiran bahwa konten tersebut baik untuk mengasah kepedulian diri terhadap orang-orang kecil. Namun jika terlalu banyak mengonsumsi hal tersebut, tak ayal jika Anda akan kelelahan dalam berempati.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Amit Sood, dilansir dari situs psychologytoday. Menurutnya, saat ini begitu banyak tayangan yang menggambarkan kesengsaraan orang lain. Tontonan itu menguras empati para penontonnya, hingga akhirnya kelelahan dalam berbelas kasih.

Baca Juga  4 Jenis Sayuran Yang Bisa Dipanen Dalam 30 hari

Selanjutnya, empati yang luntur akibat menjadir korban perundungan. Jika Anda berkelana dalam dunia maya, Anda akan banyak menjumpai kasus perundungan atau lazim disebut bullying. Membuat guyonan dari bentuk fisik tubuh seseorang atau mencemooh perilaku seseorang merupakan bentuk perundungan yang kerap Anda temui di media sosial.

Bayangkan, menurut hasil riset yang dilakukan oleh Polling Indonesia bersama Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019, terdapat 49 persen netizen yang pernah menjadi sasaran bullying di medsos. Lantas, apa hubungannya dengan empati?

Sejumlah ilmuwan setuju bahwa pelaku perundungan memiliki rasa empati yang minim. Kasus ini mengungkapkan setidaknya dua fenomena dalam masyarakat. Pertama, semakin banyak kasus perundungan, artinya semakin sedikit orang yang memiliki empati. Kedua, menurut Dwi Nur Rahmah dalam artikel jurnalnya yang berjudul Empati pada Pelaku Bullying, korban perundungan berpotensi untuk menjadi pelaku di kemudian hari.

Memupuk Kembali Empati

Lunturnya empati bukan akhir segalanya. Kondisi tersebut masih bisa disembuhkan. Sebagaimana orang yang kelelahan setelah olahraga, kelelahan dalam berbelas kasih pun pelru waktu untuk pulih. Dr. Stamm, dilansir dari psychologytoday menjelaskan beberapa kiat untuk mengembalikan kemampuan berempati kita.

Pertama, kenali kondisi Anda. Menurut Dr. Stamm, menambah pengetahuan tentang apa yang sedang Anda rasakan adalah kunci utama untuk menyelesaikan persoalan compassion fatigue. Jika Anda mulai merasa tidak peduli dengan orang sekitar Anda, boleh jadi terdapat masalah pada diri Anda. Mulailah dengan bertanya pada orang yang lebih tahu atau profesional untuk mengetahui kondisi Anda.

Baca Juga  Bahan Alami sebagai Alternatif Obat Batuk

Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Anda, mulailah untuk memahami kondisi tersebut. Mari ambil contoh kasus terdekat, yakni putus cinta. Kerap kali orang yang baru saja patah hati tidak dapat mengakui kondisinya tersebut. Ia merasa lelah karena usaha dan kasih sayangnya tak terbalas. Maka, upaya pertama yang dapat dilakukan adalah merelakan apa yang terjadi pada Anda. Meski tak mudah, namun perlu dicoba untuk kebaikan Anda.

Upaya yang lain untuk mengatasi kelelahan dalam berempati adalah bertukar pikiran dengan orang dekat. Berbagi kesulitan dan permasalahan dengan orang dekat terbukti mampu meringankan beban Anda. Dengan begitu Anda akan merasa bahwa Anda tidak sendirian. Masih ada orang yang peduli dan sayang pada Anda.

Terakhir, bertemanlah dengan orang-orang yang positif. Kasus kelelahan dalam berempati boleh jadi langgeng lantaran Anda terlalu asik dengan diri Anda sendiri. Anda kerap menutup diri dan menjauhkan diri Anda dari keramaian. Hal itu justru membuat kondisi Anda lebih buruk. Mulailah untuk mencari kesibukan baru bersama orang-orang baru. Selain mendapatkan suasana yang segar, boleh jadi Anda bertemu orang yang spesial, loh.

Memang tak mudah mengembalikan empati yang sudah luntur. Beberapa fenomena yang terjadi di tengah masyarakat seakan menandakan masyarakat dewasa ini telah kehilangan empatinya. Namun, jangan sampai diri kita ikut kehilangan rasa peduli.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *