Gangsadewa Kelompok Musik Tradisional Yang Mendunia

 Gangsadewa Kelompok Musik Tradisional Yang Mendunia

beritapapua.id – Gangsadewa Kelompok Musik Tradisional Yang Mendunia – YISCALAZHARHIJRAH

Gangsadewa adalah sebuah kelompok yang memadukan instrumen tradisional-modern dalam keragaman harmonisasi. Kelompok tersebut akan berkesempatan menampilkan pentas kolosalnya di Tokyo Jepang pada Mei 2020 mendatang.

Ini akan menjadi kali ke-empat Gangsadewa tampil di depan publik Tokyo, melalui undangan Tokyo University. Kelompok Musik ini memang terbilang unik karena dapat mengundang keingintahuan publik luar tentang keragaman instrumen musik tradisional Indonesia. Tidak hanya di Jepang, Kelompok Musik ini bahkan pernah tampil dihadapan publik Sydney-Australia beberapa tahun lalu mewakili kementrian Pariwisata Indonesia.

Gangsadewa selalu menggunakan alat-alat musik tradisional atau etnik khas Indonesia dalam setiap penampilannya. Seperti alat musik bonang dari Minang, sapek Kalimantan, kecapi Sunda dan alat musik etnik lainnya. Gangsadewa menggabungkan alat musik etnik dan alat musik modern. Alat-alat musik modern seperti bass elektrik dan gitar serta suling elektrik bisa menampilkan harmoni yang manis ketika digabungkan dengan alat musik etnik.

Baca Juga: Johny Setiawan “Astronom Gokil” Asal Indonesia

Konsep Musik yang Ditampilkan

Gangsadewa berusaha menampilkan konsep musik instrumental yang kaya akan nilai seni dan budaya. Memet menekankan bahwa Gangsadewa berusaha untuk menghadirkan konsep yang sederhana. Tentunya dengan alat musik yang menarik sehingga lo bisa menikmati penampilan tanpa melihat dari mana asalnya.

Baca Juga  Anak Jenius Indonesia, Cendikiawan Suryaatmadja

Adalah sang komposer, Memet Chairul Slamet, yang memberi warna Gangsadewa dengan keragaman musik etnisnya. Dosen ISI Yogyakarta ini dalam kesempatan Oktober bulan lalu diundang secara pribadi untuk membawakan karya-karya sebelumnya bersama grup musik Tokyo, Dejare Orkestra. Disana dia juga mendapat kehormatan karena sebuah karya terdahulunya direkomposisi oleh komponis Jepang, Makoto Namura.

Momen ini merupakan momen latihan untuk konser kolosalnya di Tokyo tahun 2020, yang akan melibatkan 1010 pemain musik memainkan instrumen batu. Sebuah karya yang merupakan disertasi sang maestro untuk meraih gelar doktornya.

Seakan tidak bisa melepaskan identitasnya, Memet selalu mengenakan odheng (ikat kepala khas kraton Bangkalan) dalam setiap penampilannya bersama Gangsadewa, dan menghadirkan instrumen-instrumen tradisional Madura seperti sronen (alat musik tiup) dan tuk-tuk (alat musik pukul) bersanding dengan instrumen-instrumen tradisional Indonesia lainnya. Harmonisasi etnis yang kental kerap menjadi warna musik Gangsadewa dalam setiap penampilannya, ini juga tak lepas dari pengaruh sang komposer.

Gangsadewa memang belum pernah tampil secara kolosal di Madura, namun ini sudah menjadi cita-cita Memet yang juga ingin sekaligus memberi pengaruh dan motivasi musisi dan grup musik yang ada di Madura.

Baca Juga  Gundulan, Buah Durian Langka Asli NTB

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *