Filosofi Pakaian Adat Melayu Dari Pulau Penyengat

 Filosofi Pakaian Adat Melayu Dari Pulau Penyengat

Kitapastibisa.id – Filosofi Pakaian Adat Melayu Dari Pulau Penyengat – Grid

Filosofi Pakaian Adat Melayu Dari Pulau Penyengat – Pulau Penyengat merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Riau. Pulau Penyengat memberikan witasa budaya dimana para pengunjungnya dapat mencoba pakaian adat. Kegiatan ini dilakukan di Balai Adat Pulau Penyengat.

Balai Adat berbentuk rumah panggung Melayu tradisional yang menjadi tempat berkumpulnya warga dan kegiatan lainnya. Saat memasuki Balai Adat, pengunjung akan disuguhkan ada tiga warna yang mendominasi singgasana bernama petrakna yakni kuning, merah, dan hijau. Masing-masing warna yang juga hadir pada busana adat memiliki arti yang berbeda. Yakni warna kuning menyimbolkan kejayaan atau keemasan yang dipakai oleh sultan atau raja yang takhta lebih tinggi. Warna hijau artinya kesetiaan,yang biasanya dipakai oleh bendahara kerajaan dan kaum temanggung. Sementara warna merah artinya keberanian, biasa dipakai oleh hulubalang kerajaan atau panglima perang.

Baca Juga: Christian Gonzales Tetap Romantis Meski Sudah Lama Menikah

Busana Adat Yang Sarat Akan Makna

Baju Adat ini memiliki desain tanpa kerah dengan satu kancing yang disebut Cekak Musang. Ada juga baju yang memiliki lima kancing yang melambangkan jumlah Rukun Islam yang disebut Teluk Belanga. Selain itu, baju adat ini juga dilengkapi kain samping. Yang memiliki makna tersendiri bagi pemakainnya. Yakni jika si pemakai menggunakan kainnya di atas lutut, itu artinya si pemakai belum menikah, tetapi jika memakai kainnya di bawah lutut itu artinya si pemakai sudah menikah. Selain itu, untuk kelengkapan busana adat Melayu juga terdiri dari tanjak, bros, keris dan bengkung.

Baca Juga  Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu

Busana adat Melayu untuk perempuan terdiri atas beberapa bagian. Sebut saja Baju Kurung Teluk Belanga bisa juga Kebaya Labuh, di mana labuh sendiri berarti panjang, selempang, hingga kain songket. Lipatan kain luar menjadi penanda status pernikahan. Jika lipatan terluar berada di kanan, itu tanda sudah menikah. Namun bila lipatan terluar berada di sisi kiri berstatus lajang. Sedangkan untuk selempang perempuan di sebelah kiri dan laki-laki sebelah kanan.

Kelengkapan lain dari busana adat Melayu untuk perempuan adalah bros, bengkung atau sabuk, dokoh atau kalung, pending atau hiasan di pinggang yang terbuat dari bahan logam atau kuningan. Ada pula hiasan kepala atau mahkota pengantin bernama Sunting. Biasanya perempuan akan memakai sanggul lintang pada rambut.

Artikel Terkait