Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu

 Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu

Kitapastibisa.id – Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu – Indonesia Kaya

Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu – Suku Huaulu merupakan salah suku asli dari Pulau Seram, Ambon. Suku asli di Pulau Seram ini menempati bagian utara Pulau Seram dan pemukiman mereka berada tepat di kaki gunung Binaiya. Mereka dikenal sebagai suku yang sangat mencintai damai dan selalu berusaha menerima siapapun yang ingin mengenal mereka lebih dekat lagi. Suku Huaulu memiliki beragam kearifan lokal yang sangat otentik dalam kehidupan sehari-harinya.

Suku Huaulu dikenal memiliki rumah adat yang disebut Baileo. Keberadaan rumah adat bagi ini memiliki arti yang sangat mendalam. Rumah adat Baileo ini menjadi salah satu hal bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat di pemukiman Huaulu.

Baca Juga: Tips Untuk  Menjaga Kesejukan Rumah

Mengenal Sejarah Rumah Adat Baileo

Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu
Kitapastibisa.id – Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu – Indonesia Kaya

Suku Huaulu sebelum mendirikan rumah Baileo,  biasanya akan mengadakan upacara adat yang berisikan berbagai ritual. Dalam ritual ini, rumah adat Baileo harus menggunakan tengkorak manusia yang berasal dari musuh-musuh suku Huaulu sebagai pondasi utama dari tiang-tiang di seluruh bangunan. Namun, kini seiring dengan perkembangan zaman, ritual ini diganti dengan sebuah tempurung kelapa untuk setiap tiangnya.

Baca Juga  Memayu Hayuning Bawana, Nilai Kehidupan Masyarakat Jawa

Rumah adat baileo terbentuk dari material alami seperti kayu, bambu, dan atap rumbia. Bahkan ada beberapa rumah yang sama sekali tidak menggunakan paku untuk menyatukan satu bagian dengan bagian lainnya. Baileo merupakan rumah adat utama yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga desa. Baileo berbentuk seperti rumah panggung yang bisanya dijadikan sebagai rumah Raja atau Kepala Desa dan juga tempat beribadah. Mereka biasa mengadakan pertemuan terkait kehidupan warga atau bahkan pembicaraan mengenai strategi perang. Namun sekarang Baileo lebih banyak dimanfaatkan sebagai Balai Desa. Warga desa Huaulu biasa melakukan rapat desa dan berbagai upacara adat di Baileo.

Baileo memiliki banyak tiang penyangga yang memiliki hiasan ukiran adat. Rumah adat ini memiliki sebuah tangga berukuran 1,5 meter. Baileo memiliki ruang utama yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga desa, tempat ini terbuka yang tidak memiliki penyekat jendela atau pintu. Didalamnya terdapat tempat duduk yang biasa digunakan sebagai tempat rapat bahkan makan besar secara bersama-sama. Baileo juga memiliki satu ruangan privasi berupa kamar tidur yang difungsikan sebagai tempat istirahat. Selain itu, Baileo juga memiliki ruangan untuk memasak dan kegiatan rumah tangga lainnya.

Baca Juga  Subak Jatiluwih, Warisan Budaya Dari Bali

Artikel Terkait