Emang Pejuang Agresi Militer Belanda II

 Emang Pejuang Agresi Militer Belanda II

Kitapastibisa.id – Emang Pejuang Agresi Militer Belanda II – Palingseru

Emang Pejuang Agresi Militer Belanda II –¬†Pahlawan adalah mereka yang memberikan waktu dan tenaganya demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Namun, banyak dari mereka yang bahkan tidak dikenal oleh khalayak luas.

Emang, misalnya. Ia adalah salah satu Tentara Republik Indonesia (TRI) di Batalyon 1 Resimen 7 Purwakarta yang berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pahlawan yang berasal dari warga biasa yang hingga kini menjadi saksi hidup perjuangan melawan Belanda.

Emang, namanya. Seorang veteran yang pensiun dini di usia 25 tahun. Baginya, kehidupan yang ia miliki saat ini merupakan berkah yang tiada tara. Bekas luka yang kini telah mengering terus mengingatkannya atas pertempuran sengit dengan Belanda.

Pertempurang itu terjadi di hutan karet wilayah Kalijati, Subang. Jual beli tembakan terjadi antara Tentara Republik Indonesia dengan pasukan Belanda. Tak pelak, Ia pun tertembak. Bukan sembarang luka tembak. Peluru itu menyasar kepalanya dan, darah mengucur melalui keningnya.

“Aku kira keringat, ternyata darah,” ujar Emang mengutip dari channel YouTube Dedi Mulyadi, Minggu (16/8/2020).

Baca Juga  Menembus Keterbatasan Bersama Wiro Hamjen

Dengan kepala yang mengucurkan darah, Emang tertatih membalas serangan musuh. Bersama prajurit lainnya, ia berjuang hingga titik darah penghabisan. Namun, situasi kala itu tidak mendukung. Belanda punya persediaan senjata yang lebih memadai.

Serdadu Belanda mengeluarkan lampu sorot agar tembakan mereka lebih presisi. Benar saja, sejumlah tentara Indonesia tertembus peluru. Termasuk Emang. Sekitar 6 peluru bersarang di kakinya dan 1 peluru pada bahunya.

Setelah itu serdadu mendatangi tentara Indonesia yang terkapar untuk memastikan mereka mati. Mereka menghujamkan bayonet ke arah pasukan Indonesia yang sudah tak berdaya. Emang mendapat 3 tusukan pada tubuhnya.

Mengingat kejadian itu membuat napas Emang pendek. Degup jantungnya kembali terpacu layaknya ia kembali ke medan perang. Ia ingat betul bagaimana serdadu Belanda menghujamkan bayonet itu tiga kali ke tubuhnya.

“Saya tahan, dikira mati. Saya pergi,” ungkapnya sambil menghela napas.

Baca Juga: Sosok Inspiratif di Balik Taman Baca Kolong Ciputat

Ketika Emang Dipaksa Pensiun Dini

Emang Pejuang Agresi Militer Belanda II
Kitapastibisa.id – Emang Pejuang Agresi Militer Belanda II – Kesatu

Emang selamat dari maut. Kegigihannya serta kekuatannya berhasil membuatnya selamat dari bringasnya tentara Belanda. Setelah menahan rasa sakit tusukan bayonet serdadu Belanda, ia lari. Beruntung, ia bertemu sekelompok warga yang kemudian menolongnya.

Baca Juga  Menjaga Kondisi Lemari Agar Tetap Bersih dan Wangi

Segala luka dan pengalaman itu membuatnya pingsan selama 40 hari. Selama itu, Emang dirawat oleh warga. Namun, hal unik terjadi. Ia kerap meracau dengan bahasa Belanda dan meminta roti sebagai makanannya. Bukan nasi ataupun singkong. Setelah ia tersadar, ia tahu bahwa luka pada kakinya semakin parah. Akhirnya, ia harus pensiun dini di umur 25 tahun lantaran luka tembak di kakinya.

“Saya pensiun dini karena luka tembak di usia 25 tahun, masih bujangan,” kenangnya Emang.

Ia kemudian melanjutkan hidupnya sebagai seorang petani. Ia menikah dan memiliki 5 orang anak. Hingga kini, ia tinggal di Desa Cirende, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta.

Kisah perjuangan Emang patut menjadi sebuah tauladan. Rasa takut dan sakit yang kita alami boleh jadi tidak seberapa dengan apa yang Emang tempuh. Sebagai anak muda, tentu kita dapat belajar semangat juang Emang sebagai salah satu pahlawan tanpa tanda jasa. Berjuanglah hingga waktu meminta kita untuk berhenti.

Artikel Terkait