Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu

 Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu

Kitpapastibisa.id – Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu – Tempo

Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu – Berdaya bersama mungkin adalah sebuah semangat yang coba diwujudkan oleh Dissa Syakina Ahdanisa. Perempuan yang lahir di Jakarta pada 29 Februari 1990 ini mendirikan sebuah Café dan meninggalkan pekerjaan sebagai analis keuangan di sebuah bank swasta di Singapura untuk fokus membesarkan Deaf Cafe Fingertalk.

Keinginan Dissa untuk mendirikan Deaf Café ini bermula dari kegiatan yang pernah ia lakukan di Nicaragua. Pada saat itu, tahun 2013 tepatnya, Dissa selama 3 bulan menjadi relawan di Nikaragua, mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak dan membantu warga miskin.

Suatu hari ia masuk ke sebuah kafe bernama Café de las Sonrisas. Di dalam kafe ia baru sadar, semua pelayan dan juru masak adalah tunarungu. Sementara pemiliknya, Antonio Prieto, bukan tunarungu.Itu adalah salah satu moment di mana Dissa memiliki cita-cita untuk membuat hal yang serupa.

Baca Juga: Menikmati Minuman Ala Cafe di Rumah

Perjalanan Dissa Syakina Ahdanisa Mendirikan Deaf Cafe

Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu
Kitapastibisa.id – Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu – Pegipegi

Hal ini tak langsung terwujud karena Dissa bekerja terlebih dahulu di Singapura. Namun, hal ini tak menyurutkan niatnya untuk membangun sebuah tempat yang ia impikan suatu hari nanti. Maka, ia pun mulai rajin menyisihkan 30% setiap gaji bulanannya untuk kemudian ditabung. Tabungan inilah yang nantinya ia jadikan modal bisnisnya.

Baca Juga  Yane Ansanay, Melahirkan Calon Peneliti Muda Asal Papua

Pertemuannya dengan Pat Sulistiyowati, 67 tahun, yang pernah menjadi Ketua Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia memberikannya banyak sekali bantuan dan melengkapi tentang apa yang ia butuhkan untuk mewujudkan keinginannya.

Pat membolehkan dia menyewa sebuah gudang di halaman rumah Pat di Pamulang, Tangerang Selatan. Lewat jaringan Pat pula dia mencari karyawannya yang pertama. Kafe Fingertalk berdiri sejak Mei 2015 dengan lima karyawan. Sesuai dengan namanya, para pramusaji kafe ini melayani pelanggan dengan bahasa jari. Kalau pelanggan tak bisa bahasa jari, mereka membaca gerak bibir. Mulanya para karyawannya merasa canggung melayani customer dengan cara itu. Namun seiring berjalannya waktu mereka merasa percaya diri dan terbiasa dengan hal tersebut.

Mei 2015 Deaf Cafe Fingertalk resmi berdiri di Pamulang, menggandeng 5 tunarungu untuk bekerja sebagai koki dan pramusaji. Apa yang dilakukan oleh Dissa juga merupakan sebuah inspirasi bagi banyak anak-anak muda yang juga menjadi agen perubahan. Bahwa menjadi berdaya bisa dengan banyak sekali cara dan dengan siapa saja.

Baca Juga  Rizka Fatimah Penulis Komik Anti Bullying

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *