Dindin Komarudin, Tempat Pulang Anak Punk Jalanan Jakarta

 Dindin Komarudin, Tempat Pulang Anak Punk Jalanan Jakarta

Kitapastibisa.id -Dindin Komarudin, Tempat Pulang Anak Punk Jalanan Jakarta – Validnews

Dindin Komarudin, Tempat Pulang Anak Punk Jalanan Jakarta – Di ujung utara Kota Jakarta, terdapat kisah yang menjadi tauladan masyarakat. Di sana, anak punk jalanan menemukan tempatnya untuk kembali pulang. Pulang oleh Dindin Komarudin, pendiri Yayasan Kumala, dimaknai sebagai kesempatan untuk dipercaya.

Di matanya, anak punk jalanan merupakan gurunya. Dindin mengaku bahwa mereka telah memberikan banyak pelajaran berharga padanya. Mulai dari pekerja keras hingga kesetiaan. Hal itu yang menurut Dindin tidak dilihat oleh orang banyak.

“Melihat anak-anak dari sisi negatifnya. Mengganggu ketertiban, mengganggu keindahan kota. Kotor, enggak teratur. Padahal mereka jarang sakit, ulet, kerja keras. Ketika dalam kelompok mereka setia banget,”  tuturnya.

Melihat potensi itu, Dindin mendirikan Yayasan Kumala sebagai tempat anak-anak jalanan berkreasi. Baginya, yang diperlukan oleh mereka adalah kesempatan dan kepercayaan. Tak banyak orang yang mau memandang mereka sebagai manusia yang utuh. Bahkan, kerap dipandang sebelah mata.

“Selama ini mereka enggak dikasih kesempatan. Jarang orang memberikan kesempatan, kepercayaan,” tuturnya.

“Salah orang-orang berfikir kalau anak jalanan itu seolah-olah dari faktor ekonomi orang tidak mampu. Padahal, mereka baju belum belel sudah ganti beli di Senen. Kalah kita gaya hidupnya,” imbuh Dindin Komarudin.

Baca Juga: Mengatasi Masalah Kulit Kering Saat Musim Panas

Baca Juga  Daniel Indro, Ilustrator Komik Amerika Asal Tulungagung

Menjadi Anak Jalanan untuk Belajar dari Mereka

Sebelum Dindin memutuskan untuk membangun Yayasan Kumala, ia merupakan karyawan di salah satu perusahaan. Hidupnya berkecukupan dan terbilang nyaman. Namun, ia merasa hatinya kosong. Baginya, nilai dari kehidupan adalah berbagi kepada sesama.

Ia menyadari itu kala melihat anak jalanan. Dindin terpukau dengan kehidupan mereka yang sederhana. Lantas, ia meninggalkan pekerjaannya dan turun ke jalanan untuk hidup bersama mereka.

“Nah, saya dulu berusaha untuk mendekati mereka itu gimana caranya, kita juga kan awal-awal mau ditolak itu. Kadang disamperin lari gitu kan ya? Aduh gimana ya caranya gitu ya. Nah, saya punya ide waktu itu, gimana kalau kita jadi mereka dulu gitu ya? Minimal penampilan sama. Kalau kita senang main gitar bareng-bareng. Dan yang terpenting itu, ketika kita memberikan perhatian ke mereka, mendengarkan, kita dianggap menjadi figur mereka,” tutur Dindin.

Saat hidup bersama mereka, Dindin semakin takjub. Mereka memiliki loyalitas dan rasa kekeluargaan yang kadang tidak ditemukan oleh keluarga di Ibu Kota. Terdapat figur seorang pemimpin yang melindungi anak-anak jalanan ini. Dindin menyebutnya sebagai abang-abangan. Figur ini adalah sosok yang membuat anak-anak jalanan ‘betah’ hidup bersama.

“Justru abang-abangannya ini yang menjadi figur,minimal melindungi kalau ada yang ganggu. Kalau sakit ada yang urusin. Nah hal itu ternyata tidak banyak, contoh kasus, tidak dilakukan oleh orang tua. Jadi orang tua masa bodoh, yang penting kasih uang, kasih jajan,” jelas Dindin.

Baca Juga  Tips Menyusun Barang Koleksi Agar Terlihat Menarik

Pandangan negatif masyarakat umum terhadap anak jalanan pun luntur di mata Dindin. Ia melihat hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, dan itu sangat berharga. Bayangkan, apa yang bisa diperbuat anak-anak itu ketika mereka mendapat kesempatan. Katakanlah memimpin sebuah perusahaan.

“Mereka itu sebetulnya punya keinginan. Ingin sama lah punya norma seperti yang lain, enggak mengganggu ketertiban lalu lintas, enggak mengganggu keamanan misalnya. Kalau enggak pernah kita kasih kesempatan, ya maka mereka akan seperti itu terus,” ujar pendiri Yayasan Kumala itu.

Yayasan Kumala: Kesempatan Bagi Anak Jalanan

Dindin Komarudin, Tempat Pulang Anak Punk Jalanan Jakarta
Kitapastibisa.id -Dindin Komarudin, Tempat Pulang Anak Punk Jalanan Jakarta – faktapers

Di sana, mereka tak hanya diberikan tempat tinggal. Mereka diberikan kesempatan untuk hidup layaknya orang-orang lain di Ibu Kota. Mereka diberikan pekerjaan, diberikan ruang berekspresi, hingga diberikan fasilitas untuk mewujudkan ide-ide mereka.

“Alhamdulillah teman-teman di sini, sekarang itu sudah setop di jalan, mereka punya aktivitas sendiri. Bahkan sering kita melakukan kegiatan-kegiatan untuk sharing ke berbagai daerah untuk teman-teman atau masyarakat di luar daerah itu cerita pengalamannya di sini,” jelas Dindin.

Baca Juga  Komarudin, Pejuang Indonesia yang Berasal dari Korea

“Alhamdulillah anak-anak di Yayasan Kumala mungkin, walaupun masih ada yang berproses, tapi sebagian besar mereka sekarang sudah banyak yang bekerja. Baik itu jadi driver, sekuriti, bahkan ada yang jadi guru, pns juga ada,” imbuhnya.

Di Yayasan Kumala, mereka mampu meraih apa yang orang lain tak mampu raih. Mulai dari mencetak ide brilian seperti usaha daur ulang limbah, bank sampah, bahkan menjadi motivator kehidupan. Beberapa orang bahkan menjadi trainer untuk pengolahan limbah menjadi kertas.

Dindin menyebut bahwa anak-anak jalanan-lah yang mengajarkan dirinya hidup. Beradaptasi dengan lingkungan, rasa kesetiaan yang tinggi, hingga pelajaran hidup lainnya yang tidak ia dapat di tempat lain. Yayasan Kumala adalah rasa terima kasih Dindin kepada mereka. Prestasi yang diraih oleh Yayasan Kumala adalah hasil usaha mereka, bukan Dindin.

“Mungkin 80 persen, 90 persen, mereka tidak sekolah. Tapi dengan keinginan yang kuat, dengan perjuangan yang kuat, dari sampah saja kita bisa hidup. Jadi sampah itu bukan berarti dibuang tidak manfaat, tidak berguna. Bahkan yang di pinggir jalan itu kalau kita pungut, kita bersihkan, kita bikin kreasi itu bisa jadi nilai,” tutup Dindin.

Artikel Terkait