Dicky Senda Pemuda Berkarya di Tanah Kelahiran

 Dicky Senda Pemuda Berkarya di Tanah Kelahiran

Kitapastibisa.id – Dicky Senda Pemuda Berkarya di Tanah Kelahiran – Mediaindonesia

Dicky Senda Pemuda Berkarya di Tanah Kelahiran – Semangat para kaum muda dalam membuat sebuah gerakan untuk dapat membangun bangsa merupakan sebuah warisan yang telah lahir sejak masa kemerdekaan. Bertahun-tahun berlalu dan semangat kepemudaan tersebut masih terus muncul dari berbagai wilayah Indonesia, masih untuk memwujudkan cita-cita bangsa.

Salah seorang pemuda tersebut adalah Dicky Senda. Pemuda yang lahir dengan nama Christian Dicky Senda di Molo Utara, Nusa Tenggara Timur, 22 Desember 1986. Umur 33 tahun adalah seorang sastrawan dan wiraswasta Indonesia. Dicky pernah aktif dalam Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Solidaritas Giovanni Paolo, serta Forum SoE Peduli. Kini ia menjadi penggagas Lakoat Kujawas, sebuah proyek kewirausahaan sosial dalam bidang seni budaya.

Dicky merupakan seorang lulusan sarjana psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta tahun 2010, yang kemudian aktif sebagai konselor pendidikan di Jogja dan di Kupang.

Enam tahun kemudian, Dicky memutuskan berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamannya di Desa Taiftob, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten TTS. ‘Mollo’ ialah nama dari kawasan adat yang melingkupi daerah sekitaran Gunung Mutis. Suku Mollo telah sejak lama menjaga wilayah asri tersebut secara turun-temurun dengan memegang prinsip-prinsip ekologi tradisional.

Baca Juga  Ida Ayu Riski Susilowati, Siswi Berjualan Cilok Untuk Kebutuhan Hidup

Baca Juga: Padu Padan Kebaya dengan Sentuhan Kekinian

Komunitas Lakoat Kujawas

Dicky Senda Pemuda Berkarya di Tanah Kelahiran
Kitapastibisa.id – Dicky Senda Pemuda Berkarya di Tanah Kelahiran – MLDSpot

Di desanya ini, Dicky Senda menggagas komunitas Lakoat Kujawas, sebuah komunitas kewirausahaan sosial yang bertujuan mengeksplorasi kearifan budaya setempat. Awalnya komunitas ini berdiri atas gagasan beberapa anak muda Mollo yang baru pulang kampung. Namun, dalam perjalanannya, mereka juga mulai merangkul orang-orang lintas generasi, dari mulai anak-anak hingga para tetua.

 Nama komunitas berasal dari nama dua buah yang tumbuh subur pada kawasan Mollo, yaitu buah lakoat (biwa) dan buah kujawas (jambu biji). Dua buah yang ia gambarkan menemani masa kecil anak-anak Mollo, yang kemudian menjadi representasi dari harapan dan impian mereka untuk merevitalisasi kembali prinsip-prinsip ekologi budaya tanah Mollo.

Salah satu kegiatan yang ia lakukan bersama anak-anak Mollo adalah pengarsipan. Salah satu yang menjadi perhatiannya berfokus pada masalah pangan lokal. Melalui komunitas ini, mereka mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi masyarakat Mollo, termasuk pada bidang pertanian. Ia kemudian menggali ulang berbagai tradisi dan pengetahuan masa lampau yang telah berakar secara turun temurun pada masyarakat dan mempraktikkan kembali hal-hal yang selama ini sudah mulai terlupakan oleh masyarakat sekitar.

Baca Juga  Cerita Najwa Shihab dan Karir Gemilangnya

Pengembangan metode pertanian tradisional juga menjadi salah satu program yang sedang mereka upayakan. Mereka berusaha menyemai kembali benih-benih lokal, serta mengolahnya dengan tata cara pertanian yang rujukannya berasal dari tradisi setempat.

Artikel Terkait