Deru Sadiman Hijaukan Lereng Gunung Lawu

 Deru Sadiman Hijaukan Lereng Gunung Lawu

kitapastibisa.id – Deru Sadiman Hijaukan Lereng Gunung Lawu – Sukita ID

Deru Sadiman Hijaukan Lereng Gunung Lawu – “Dulu, saya dianggap gila. Ketika (masyarakat) yang lain menanam tanaman pangan, saya malah menanam pohon beringin. Tapi sekarang, apa yang saya tanam itu bisa menghasilkan air untuk warga dan udara menjadi sejuk,”

– Sadiman

Siapa yang tidak mendambakan lingkungan yang asri? Begitulah yang dirasakan oleh warga Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah. Dahulu, kebakaran hebat pernah melanda desa di Lereng Gunung Lawu itu. Kekeringan melanda kala kemarau tiba, banjir menerjang saat hujan turun dengan lebatnya. Tak jarang warga kesulitan air bersih. Namun beberapa tahun terakhir, warga dapat melepas kerinduannya pada alam.

Sadiman saat ini berumur 70 tahun. Sejak tahun 1996, lelaki asal Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah ini berjibaku dengan lingkungan tempat tinggalnya. Sadiman adalah salah satu alasan kembali hijaunya desa di Lereng Gunung Lawu itu. Ia resah melihat desa tempat kelahirannya kian gersang lantaran kebakaran dan penggundulan hutan untuk dijual pohonnya. Ia rindu dengan Desa Geneng yang hijau nan asri sebagaimana yang dia ingat waktu ia kecil dulu. Tahun 2015, cita-citanya terwujud.

Kala warga lain menanam tanaman pangan, Sadiman malah menanam pohon beringin. Kini, sekitar 250 hektare lahan di Geneng kini hijau hasil 20 tahun lebih jerih payah Sadiman menanam pohon dan merawatnya. Ia dan warga sekitar tak lagi takut akan kebanjiran dan kesulitan mencari air bersih.

Baca Juga  Ritual Sepak Bola di Kamp Pengasingan Digul, Papua

“Saya tak pernah berpikir untuk bisa memetik hasil kerja saya ini. Bahkan ketika nanti saya sudah tiada, saya juga tak ingin diperlakukan berlebihan. Saya hanya ingin berbuat kebaikan bagi sesama selama saya masih bisa,” ucap Sadiman.

Dinobatkan sebagai pahlawan lingkungan tak membuat Sadiman besar kepala. Sadiman adalah seorang petani yang hidup di rumah berukuran 9 x 6 meter. Beralaskan tanah, Sadiman dan istrinya hidup sederhana dalam bahtera rumah tangganya.

Baca Juga: Yan Mongula, Pencipta Hand Sanitizer dengan Kearifan Lokal

Jalan Terjal Sang Pahlawan Lingkungan

Sejak kebakaran pada tahun 1964 di Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan, Lereng Gunung Lawu bagian Tenggara, ekosistem menjadi begitu payah. Krisis air melanda membuat warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Tak hanya kebakaran, ulah tangan manusia rakus yang kerap membabati hutan demi keuntungan pribadi juga turut andil dalam kepayahan lingkungan Desa Geneng.

Resah melihat kerusakan alam, Sadiman tergerak untuk berbuat. Tak kurang dari 100 hektar lahan hutan di Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan ia garap. Bukan tanpa izin, pria yang bekerja sebagai petani di lahan tumpangsari ini sudah mengantongi izin dari Perhutani. Tak hanya menanam pohon pengikat air, ia juga merawatnya. Tak jarang, pohon yang mati ia kembali tanami. Ia melakukannya sendiri, tanpa imbalan dari siapa pun.

Baca Juga  Kesenian Lokal Tari Lengger Asal Banyumas

“Dulu, saya dianggap gila. Ketika (masyarakat) yang lain menanam tanaman pangan, saya malah menanam pohon beringin. Tapi sekarang, apa yang saya tanam itu bisa menghasilkan air untuk warga dan udara menjadi sejuk,” tutur Sadiman

Menanam pohon beringin bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pihak perhutani melakukan reboisasi dengan menanam pohon pinus. Namun menurut Sadiman, bukan itu yang lingkungan butuhkan. Pinus tak mampu menyerap dan mengikat air layaknya pohon beringin. Tak hanya soal kemampuannya menjadi sumber air. Menurut Sadiman, pandangan warga soal pohon beringin yang angker membuat sedikit orang yang berani menebangnya. Setelah mempelajari hal tersebut, barulah ia meminta izin kepada pihak terkait untuk melakukan penghijauan dengan menanam pohon beringin.

“Setiap hari saya naik gunung ini, saya amati dan saya pikirkan kondisinya. Ternyata pohon pinus tidak banyak membantu mengikat air alam. Jika penghujan sering banjir, jika kemarau tetap saja kami kekurangan air. Setelah itu sejak tahun 1996 saya putuskan untuk menanam pohon beringin di lokasi-lokasi yang tidak ada tanamannya. Saya minta izin penjaga hutan, ternyata diperbolehkan,” imbuhnya.

Baca Juga  Taufiq Effendi, Meraih Beasiswa Dari 8 Negara Dengan Keterbatasannya

Menuai ‘Buah’ Pohon Beringin

Strategi Sadiman berhasil. Selain membuat kawasan menjadi lebih sejik, beringin terbukti mampu menyediakan sumber air bersih bagi masyarakat sekitar. Kini, Sadiman mulai merasakan ‘buah’ dari pohon beringin yang ia tanam di Lereng Gunung Lawu. Atas jasanya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganugerahinya penghargaan berupa Apresiasi Dukungan Insan Inspiratif.

“Apa yang telah dilakukan oleh Mbah Sadiman kiranya bisa menjadi contoh bagi kita semua dan bisa mengikut jejak langkah beliau dalam pelestarian lingkungan,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan.

Tak hanya penghargaan, Sadiman juga mendapatkan dana sebesar 100 juta dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh penyelamat lingkungan. Melalui Wakil Pimpinan Wilayah BRI Yogyakarta, Joko Sudarmo, dana sejumlah Rp 100 juta diberikan kepada Sadiman atas dedikasinya menjaga alam. Bagi Sadiman, penghargaan dan hadiah yang sebenarnya adalah kembali lestarinya alam tempat tinggalnya.

“Saya pasti senang kalau didukung, tapi sebenarnya asal tidak diganggu saja sebenarnya saya sudah cukup senang meskipun itu masih juga sering terjadi,” pungkas Sadiman.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *