Berdoa Maka Allah Akan Mengabulkan

 Berdoa Maka Allah Akan Mengabulkan

Kitapastibisa.id – Berdoa Maka Allah Akan Mengabulkan – energibangsa

Berdoa Maka Allah Akan Mengabulkan – Sudah menjadi hal yang lazim bagi manusia memiliki banyak keinginan. Ingin memiliki harta yang banyak, ingin memiliki karier yang cemerlang, hingga menginginkan jodoh yang rupawan. Dalam upaya seorang manusia meraih apa yang dicita-citakan, tak jarang mereka menyelipkan doa di setiap usahanya.

Doa menjadi kekuatan setiap insan dalam meraih asanya. Seminggu mendoakan yang sama, semangat dalam berdoa belum pudar. Satu tahun mendoakan hal yang sama, muncul rasa sangsi di dada. Hingga lepas 2 tahun, ia tak lagi memanjatkan doa yang sama lantaran mulai berpikiran bahwa Rabb-nya tak mengabulkan doanya.

Allah telah berfirman dalam Alquran,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Allah telah berjanji akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya apabila mereka berdoa. Bisikan kepada bumi, terdengar hingga langit. Berdoa adalah salah satu cara paling manjur untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam kitab Taisir Al Karimir Rahman, dijelaskan bahwa kedekatan Allah pada hamba-Nya terletak pada dua kondisi, yakni pada orang yang berilmu dan pada orang yang berdoa.

Begitu bahagianya Allah mendengar doa hamba-Nya, hingga Ia datang pada sepertiga malam untuk mendengarkan langsung permintaan makhluk-Nya. Lantas, mengapa kadang doa kita tidak dikabulkan?

Baca Juga: Menjaga Diri Agar Senantiasa Istiqamah

Baca Juga  Harmoni Kerajaan Turki Utsmani dengan Aceh pada Abad ke-16

Cara Allah Mengabulkan Doa Hamba-Nya

Allah menjawab doa hamba-Nya dengan caranya sendiri. Hal tersebut disampaikan dalam hadis dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, melainkan pasti Allah memberikannya kepadanya, atau Allah menghindarkannya dari kejelekan yang sebanding dengan doanya, selama ia tidak mendoakan dosa atau memutuskan silaturahim.” Lalu seseorang berkata, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak memberi (dari apa yang kalian minta).” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Tirmidzi, no. 3573 dan Al-Hakim, 1:493. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly dalam Bahjah An-Nazhirin, hadits no. 1501].

Ketika doa tak kunjung dikabulkan, bukan berarti doa itu telah ditolak atau tidak dikabulkan. Hadis tersebut menjelaskan bahwa doa setiap hamba Allah selalu didengar dan dikabulkan. Namun, tak selalu hadir sesuai dengan apa yang diharapkan hamba-nya. Selalu lebih baik, atau minimal sama dengan apa yang diharapkan hamba-Nya.

Ketika apa yang diminta manusia hendak mendatangkan keburukan baginya, Allah yang Maha Tahu tidak akan mengabulkannya. Justru menggantinya dengan keselamatan bagi si manusia tersebut. Boleh jadi seorang hamba ditahan doanya untuk dikabulkan, lantaran Allah ingin agar manusia tersebut terus berdoa dan mereguk banyak pahala dari sisi-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala ingin hamba-Nya terus berdoa kepada-Nya bahkan hingga urusan kecil. Hal tersebut disampaikan oleh Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha

“Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363).

Baca Juga  Tiga Hal Penyebab Kerasnya Hati

Kecil atau besarnya sebuah permintaan bukanlah persoalan dalam berdoa. Yang terpenting ialah kedekatan yang terjalin antara hamba dengan Rabb-nya tatkala seorang manusia mengharap kepada Pencintanya. Begitulah cara Allah menjawab doa para hamba-Nya.

Adab Berdoa

Sebelum mengharapkan pengabulan doa, tentu seorang umat muslim harus paham adab dan etika dalam berdoa. Dalam salah satu hadis yang disampaikan di atas, salah satu adab dalam berdoa yang paling utama ialah tidak mengandung mudarat atau keburukan di dalamnya.

Berikut adab dalam berdoa, dilansir dari rumaysho.com:

  1. Tidak menyerah dalam berdoa dengan mengatakan “Aku sudah berdoa, lalu tidak terkabul.
  2. Serius dalam berdoa, menghadirkan hati di setiap doanya.
  3. Mulailah dengan meminta ampun kepada Allah dan menyanjung-Nya.
  4. Setelah itu, lanjutkan dengan bershalawat kepada Nabi.
  5. Memilih waktu-waktu yang baik dalam berdoa; seperti saat berbuka puasa, di sepertiga malam, atau selepas salat.
  6. Selalu percaya bahwa doa akan dikabulkan.

Agar Doa Diterima

Selain adab, terdapat beberapa kondisi yang harus dipahami agar doa diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, diceritakan sebuah kisah seorang yang ditolak doanya. Kala itu, terdapat seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh. Sampai akhirnya ia bertemu dengan sekelompok lainnya yang tengan membakar seekor babi dan meminum khamr.

Ia lantas meminta makanan dan minuman kepada mereka, “Boleh saya minta ikan itu?” pinta sang musafir.

Baca Juga  Bolehkah Menggunakan Masker Saat Salat?

Kemudian kelompok yang tengah membakar babi itu menjawab, “Ini bukan ikan, ini adalah babi. Setau saya dalam agama Anda, Anda tidak diperkenankan makan babi”.

Sang musafir tak memperdulikannya dan langsung menyantap babi itu serta meminum khamr. Setelah ia selesai, ia lantas mengucapkan terima kasih dan pergi. Tak lama kemudian, ia tersesat di padang pasir. Perbekalannya mulai habis ia pun berdoa kepada Allah. Namun, bagaimana doanya akan dikabulkan?

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bertutur kepada Abu Hurairah radhiayallahu anhu kala ia bercerita kisah itu, bahwa Allah tidak akan mengabulkan sang musafir,  jika apa yang dimakannya adalah makanan haram. Berikut redaksi hadis tersebut,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1015]

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *