Bercanda Menurut Koridor Ajaran Islam

 Bercanda Menurut Koridor Ajaran Islam

Kitapastibisa.id – Bercanda Menurut Koridor Ajaran Islam – greatmind

Bercanda Menurut Koridor Ajaran Islam – Sahabat Nabi, Abu Hurairah radhiyallahu anhu suatu saat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Ya, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?”

Lantas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab,

“Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Thobroni dalam Al Kabir 12: 391. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dalam Shahih Al Jaami’ no. 2494).

Nabi Muhammad merupakan sosok panutan bagi seluruh umat manusia yang ada di dunia. Segala apa yang dilakukan direkam oleh para sahabatnya sebagai tuntunan perangai manusia dalam mereguk sifat dan akhlak manusia yang mulia.

Sebagai manusia biasa, Rasulullah juga bersenda gurau atau bercanda. Sebagaimana umat muslim tidak dianjurkan untuk bersikap berlebihan, bercanda pun ada batasannya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu anha, 

“Aku (Aisyah) sama sekali tidak pernah melihat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tertawa dengan terbahak-bahak sampai aku melihat langit-langit mulutnya. Yang beliau lakukan hanyalah tersenyum.”

Rasul selalu menjaga dirinya untuk tetap berperilaku sederhana. Dalam hal tertawa, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengajarkan umatnya untuk tertawa terbahak-bahak. Beliau mengungkapkan bahwa tertawa berlebihan merupakan salah satu sebab hati menjadi keras sebagaimana sabda Rasul,

Baca Juga  Cara Sederhana Berbakti Kepada Orang Tua

“Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Tirmidzi 2/50, Dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Lantas, seperti apa bercanda yang baik dalam pandangan Islam?

Baca Juga: Ikhtiar dan Tawakal dalam Tembang Asmarandana

Kisah Zahir bin Haram dan Nabi

Anas bin Malik radhiyallahu anhu pernah menuturkan kisah saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercanda dengan sahabatnya. Kala itu, terdapat seorang pria desa bernama Zahir bin Haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai laki-laki ini. Namun, Zahir bin Haram tidak memiliki wajah yang rupawan.

Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengannya saat ia sedang menjual barang dagangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba memeluk Zahir bin Haram dari belakang. Pria itu kaget dan tidak tahu siapa gerangan yang tengah memeluknya. Zahir bin Haram pun berseru, “Lepaskan aku! Siapakah ini?”

Saat Zahir menoleh, ia sadar bahwa yang memeluknya ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zahir tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada baginda  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?”

Baca Juga  Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu

Kembali, Zahir dibuatnya kebingungan. Lantas, ia menyahut, ”Demi Allah, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika demikian aku tidak akan laku dijual!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas, “Justru di sisi Allah subhanahu wa ta’ala engkau sangat mahal harganya!” (Diriwayatkan oleh Ahmad III/161, at-Tirmidzi dalam asy-Syamil 229, al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 3604).

Batasan dalam Bercanda

Melalui kisah di atas, kita dapat mempelajari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bercanda. Sebagaimana disinggung sebelumnya beliau bercanda dengan perkataan yang sesuai dengan apa yang sebenarnya. Hal tersebut disampaikan dalam hadis riwayat Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim, pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Meski pun dalam konteks bercanda, berbohong tidaklah dibenarkan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjaga dirinya dari perkataan yang sia-sia, bahkan dapat menyakiti perasaan orang lain. Perihal bercanda, lisan merupakan hal yang sangat rawan untuk tergelincir mengatakan hal yang tidak sepatutnya.

Baca Juga  Obat dari Sifat Sombong Menurut Islam

Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Islam membolehkan penganutnya untuk tetap bercanda untuk melepas penat dan memecah kejenuhan. Namun, Islam melalui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa dalam bercanda pun ada batasannya, yakni tidak berkata dusta dan tidak menyakiti perasaan orang lain.

Membuat orang lain senyum dan tertawa memiliki nilai pahala tersendiri. Sebagai seorang muslim yang beriman, maka sudah sepatutnya kita menjaga diri dari perbuatan yang sia-sia dan tidak bermanfaat, khususnya berdusta saat bercanda.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *