Benih Impian yang Tak Padam untuk Pendidikan Indonesia

 Benih Impian yang Tak Padam untuk Pendidikan Indonesia

Benih Impian yang Tak Padam untuk Pendidikan Indonesia

Pada tahun 2005 lalu, Indonesia digemparkan dengan sebuah novel yang diadaptasi oleh kisah nyata seorang anak dengan kesepuluh teman-temannya. Mereka memperjuangkan hak mereka untuk mengenyam pendidikan di salah satu pulau paling kaya di Indonesia, Belitong. Andrea Hirata merupakan sosok yang disebut sebagai pemberi warna dalam khazanah sastra Indonesia dengan karyanya. Pendidikan yang pernah ditempuhnya, antara lain, adalah Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia. Kemudian mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.

Potret pendidikan Indonesia tertampar cukup keras kala itu. Membuat banyak pihak berpikir ulang tentang pendidikan yang seharusnya menjadi setiap hak warga negara Indonesia di semua wilayah, demi kemajuan dan terwujudnya cita-cita bangsa. Hari ini, 14 tahun setelah novel tersebut diluncurkan, pendidikan Indonesia masih terus menjadi sorotan. Kumpulan cerita soal mimpi terus bermunculan dari satu tempat ke tempat lain. Indonesia, sejatinya merupakan tanah yang menghidupkan impian jiwa-jiwa kecil para penerus bangsa dengan segala cerita perjuangannya.

Baca Juga  Acara Malam Bainai Nikita Willy Sebelum Menikah

Kekayaan budaya, sumber daya alam, dan keragaman bahasa, adat istiadat menajadi tantangan tersendiri dalam memberikan kesempatan setiap anak manusia tumbuh untuk menjemput cita-citanya. Seringkali kondisi geografis suatu wilayah dan daerah memiliki pengaruh yang sangat besar bagi anak dalam mengembangkan dirinya.

Baca Juga: Gerakan Bersama Kreatifitas Bangsa untuk Perekonomian Indonesia

Pendidikan Menurut Menurut Ki Hajar Dewantara

Pendidikan sebagai perjuangan kebudayaan pada dasarnya merupakan proses transformasi ilmu pengetahuan, sikap, nilai, etika dan ketrampilan dengan dasar kemerdekaan (memberikan ruang berkreasi pembelajar) dan berdasarkan kepada kodrat anak (minat dan bakat) melalui proses belajar mengajar menuju insan budaya. Menurut Ki Hajar Dewantara (1956) pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti, fikiran dan jasmani anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak selaras dengan alamnya dan masyarakatnya. Selaras dengan alam dan masyarakatnya dalam hal ini perlu diperhatikan kembali, mengingat Indonesia dengan segala kemajemukan masyarakat dan kondisi alam belum mampu menyesuaikan dengan usaha yang optimal.

Baca Juga  Sule Dikabarkan Telah Menikahi Nathalie Holscher

Pendidikan kontekstual bagi Indonesia merupakan hal yang sepatutnya bisa kita perjuangkan demi membangun manusia yang berkarakter, memiliki pengetahuan yang bermanfaat, menumbuhkan generasi yang berbudaya dan mampu menjaga kelestarian alam. Sebuah generasi yang memiliki keseimbangan diri demi terwujudnya cita-cita bangsa menurut sila ke-lima dalam Pancasila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *