Belajar Bersikap Santun dalam Menasihati

 Belajar Bersikap Santun dalam Menasihati

Kitapastibisa.id – Belajar Bersikap Santun dalam Menasihati – Republika

Belajar Bersikap Santun dalam Menasihati – Dakwah memiliki banyak bentuk. Salah satu bentuk dakwah adalah menasihati seseorang. Dalam menasihati seseorang, tentu tak boleh sembarangan. Kerap kali dalam penyampaiannya. Petuah justru berujung petaka. Boleh jadi petuahnya baik, namun cara penyampaiannya salah. Boleh jadi cara penyampaiannya benar, namun anjurannya kurang kuat. Lantas, bagaimana cara memberikan nasehat yang baik?

Islam dalam Alquran telah memberikan petunjuk. Khususnya, dalam memberikan petuah kepada saudara-saudari kita. Kita pasti pernah menjumpai seseorang yang melakukan kesalahan berulang kali. Saking seringnya, ia sulit lepas dari perkara tersebut. Memberikan nasihat kepada orang yang sudah terbiasa melakukan hal yang salah tentu bukan hal yang mudah. Berikut cara Islam menyampaikan kebenaran lewat bersikap yang santun.

Berilah Nasihat Secara Bertahap

Ingatkah Anda ihwal pengharaman minuman keras pada zaman Nabi? Kala itu, perintah untuk tidak meminum minuman keras datang dari Allah subhanahu wa ta’ala secara bertahap. Dalam surat An-Nahl ayat 67 Allah berfirman,

“Dan dari buah kurma dan anggur, kalian buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.”

Baca Juga  Mencari Pekerjaan baru disaat masih Bekerja

Awalnya, muslim masih boleh meminum minuman fermentasi anggur dan kurma. Namun, Allah ta’ala menyampaikan bahwa terdapat kebaikan dan keburukan dalam minuman tersebut. Salah satunya mabuk. Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 43,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan.”

Ayat tersebut turun kala seorang sahabat salat dalam keadaan mabuk. Kemudian, ia membaca surat yang maknanya salah lantaran ia tidak mampu mengontrol kesadarannya. Dalam momen tersebut, ketahuilah bahwa Allah melarang mabuk dalam salat, belum pada minumannya.

Ayat yang melarang miras turun kala terdapat sahabat yang bicara sembarangan saat mabuk. Maka, Allah azza wa jalla dalam surat Al-Maidah ayat 90 berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamer (miras), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.”

Baca Juga: Tiga Tanda Bahwa Salat Kita Diterima

Berilah Penjelasan yang Lengkap Soal Kebaikan dan Keburukan Perkara

Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Baqarah 2019 berfirman,

Baca Juga  Nama Setan dalam Islam dan Tugas Mereka

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer (miras) dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian supaya kalian berfikir.”

Allah ta’ala dalam ayat tersebut menjelaskan perihal perkara yang haram. Bahwa, pada minuman keras terdapat kebaikan dan keburukan. Namun, Allah menyebut keburukan miras lebih banyak dari kebaikannya.

Lantas, dalam surat Al-Maidah, Allah menyampaikan secara rinci perihal keburukan dalam minuman keras. Dalam ayat 91 surat Al-Maidah Allah berfirman,

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamer (miras) dan berjudi itu, sehingga menghalangi kalian dari mengingat Allâh dan dari shalat. Apakah kalian berhenti (dari mengerjakan pekerjaan itu)?”

Minuman keras dapat merusak ibadah kita sebagaimana sahabat Nabi yang salah membaca bacaan salat. Selain itu, keburukan daripada judi dan minuman keras adalah dapat menimbulkan permasalahan.

Baca Juga  Rasa Malas dalam Kacamata Islam dan Cara Mengatasinya

Belajar dari Pengharaman Minuman Keras

Kisah tersebut mengajarkan kita bahwa dalam menyampaikan nasihat, tentu memiliki teknik dan strategi dengan tetap bersikap yang santun. Strategi tersebut adalah: menyampaikan secara bertahap dan memberikan penjelasan mengapa suatu perkara dilarang.

Kita menganggap bahwa orang dewasa sudah mampu menimbang baik dan buruk suatu perkara. Apabila kita sudah berupaya menasihati namun tidak juga berubah, maka tugas kita sudah selesai. Bahwa, hati seseorang milik Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, Allah yang nanti akan mengubah pandangan seseorang terkait perkara maksiat. Tugas kita adalah mengingatkan dan bersabar dalam berdakwah.

Artikel Terkait