Barirah dan Mughits: Kala Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

 Barirah dan Mughits: Kala Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Kitapatibisa.id – Barirah dan Mughits: Kala Cinta Bertepuk Sebelah Tangan – Tribun

Barirah dan Mughits: Kala Cinta Bertepuk Sebelah Tangan – Jangan anggap kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan tidak ada pada zaman Nabi. Tak melulu, cinta selalu berbalas kasih. Cinta tak selalu berjalan sebagaimana keinginan. Kadang kala, materi itu berlabuh pada kesengsaraan dan kesedihan. Salah satu kisah itu adalah kisah Barirah dan Mughits.

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan,

“Itu adalah Mughits, budak milik bani fulan, dia adalah suami dari Barirah. Mughits terus membuntuti Barirah di jalan-jalan kota Madinah, sambil mengharap belas kasihan dari Barirah.” (HR. Bukhari no. 5281).

Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang merupakan seorang budak. Ke manapun Barirah pergi, Mughits selalu mengikuti. Namun, ada yang aneh pada raut wajah Mughits. Keanehan tersebut bahkan membuat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam heran.

Tak jarang air mata Mughits selalu menetes dan membasahi jenggotnya kala mengikuti Barirah. Ya. Mughits mengemis cinta Barirah. Meski ia suaminya, namun kebesaran cintanya tak terbalaskan oleh Barirah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada pamannya, Abbas,

Baca Juga  Mudah Bosan Termasuk Akhlak yang Buruk

“Wahai Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah namun betapa besar pula kebencian Barirah kepada Mughits.”

Melihat Mughits hidup begitu pelik, Rasulullah hendak menjadi seorang perantara bagi Barirah dan Mughits. Tujuannya adalah agar Barirah kembali kepada Mughits. Namun, Barirah menolaknnya seraya mempertegas posisinya yang tidak menginginkan Mughits.

Baca Juga: Urutan Pemakaian Skincare Malam Hari Yang Benar

Bahwa Cinta Tak Harus Memiliki

Apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lakukan saat mengetahui jawaban Barirah? Nabi kemudian meminta Aisyah radhiyallahu anha untuk membebaskan Barirah dari status budak. Rasulullah kemudian memberikan pilihan untuk Barirah apakah ia ingin menjadi istri Mughits kembali setelah merdeka. Barirah berkata,

“Walau Mughits memberiku sekian banyak harta aku tidak mau menjadi isterinya.” itu menjelaskan bahwa Barirah memilih untuk tak lagi bersama suaminya.” (HR. Bukhari no. 2536).

Akhirnya, Barirah berpisah dengan Mughits yang masih mencintainya. Atas kisah tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berkata di atas mimbar,

Baca Juga  Riwayat Saad bin Abi Waqqash: Doa yang Semanjur Panahnya

“Mengapa bisa ada kaum yang membuat suatu persyaratan yang menyelisihi Kitabullah. Siapa yang membuat syarat lantas syarat tersebut bertentangan dengan Kitabullah, maka ia tidak pantas mendapatkan syarat tersebut walaupun ia telah membuat seratus syarat.” (HR. Bukhari no. 456 dan Muslim no. 1504).

Kisah tersebut mengajarkan tiga hal. Pertama, bahwa cinta bisa saja bertepuk sebelah tangan. Kita tak bisa selalu mengharapkan balasan cinta dari orang lain. Dan dari sana, kita harus belajar memahami dan pasrah kepada ketetapan yang ada.

Kedua, cinta tak harus memiliki. Cinta tak selalu berujung pada pernikahan yang bahagia. Kisah Mughits dan Barirah, misalnya. Begitu besar cinta dan upaya Mughits justru berakhir kandas.

Ketiga, bahwa cinta berlebihan dapat membutakan mata dan hati. Lantaran cinta, boleh jadi seseorang menanggalkan perkara sunnah, bahkan wajib. Tak sepatutnya seorang muslim begitu mencintai hal selain daripada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman-Nya,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang …” (QS. Ali Imran:14).

Baca Juga  Belajar Bersikap Santun dalam Menasihati

Artikel Terkait