Bagaimana Hukum Salat Berjamaah Saat Normal Baru?

 Bagaimana Hukum Salat Berjamaah Saat Normal Baru?

Kitapastibisa.id – Bagaimana Hukum Salat Berjamaah Saat Normal Baru? – Tribun

Bagaimana Hukum Salat Berjamaah Saat Normal Baru? – Pelonggaran peraturan keamanan kesehatan mulai dilakukan di beberapa tempat. Bukan hanya karena alasan ekonomi, namun juga karena turunnya angka penularan virus corona.

Aktivitas harus kembali berputar. Mulai dari pekerjaan, usaha kecil-kecilan, pusat perbelanjaan, termasuk persoalan ibadah. Meski peraturan dilonggarkan, namun pemerintah tetap mengimbau masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan.

Dalam peribadatan umat muslim, misalnya. Serangkaian protokol kesehatan dilakukan agar jemaah dapat beribadah sediakala. Mulai dari salat jemaah 5 waktu hingga salat hari raya. Cek suhu, pergi beribadah hanya jika sehat, hingga mengatur jarak saat beribadah merupakan bentuk protokol yang harus dipatuhi.

Meski sudah masuk masa normal baru, masih ada sebagian orang yang waspada. Mereka enggan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat 5 waktu secara berjamaah. Lantas, seperti apa hukum salat berjamaah 5 waktu saat normal baru?

Baca Juga: Memaknai Mandul dari Perspektif Islam

Hukum Salat Berjamaah 5 Waktu di Masjid Saat Normal Baru

Sebelum membahas hukum salat berjamaah secara kontekstual, maka perlu dipahami hukum dari salat berjamaah di masjid. Sebagian besar ulama sepakat bahwa hukum salat berjamaah di masjid adalah sunnah muakkad. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga  Tips Menjaga Kamera Tetap Awet dan Berfungsi Baik

“Demi jiwaku yang ada pada tangan-Nya, aku telah bermaksud memerintahkan untuk mengambilkan kayu bakar, lalu dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan azan shalat untuk dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang berjama’ah, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak shalat berjama’ah lalu aku membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari, no. 644 dan Muslim, no. 651)

Makna sunnah muakkad di sini adalah perkara sunnah yang apa bila ditinggalkan sengaja maka akan berdosa. Ia adalah amalan yang harus diupayakan untuk ditunaikan jika tidak ada uzur. Bagaimana dengan adanya wabah covid-19?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

“Wabah adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, wabah itu dijadikan oleh Allah sebagai rahmat untuk orang beriman. Ketika terjadi wabah, siapa pun tinggal di dalam rumahnya dalam keadaan sabar, mengharap pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.”[4]

Kita mengetahui bahwa virus corona telah bermutasi. Ia semakin ganas, bahkan tingkat orang tanpa gejala semakin marak. Mengutip dari rumaysho, penyebaran virus corona yang semakin mengerikan menjadi uzur bolehnya umat muslim untuk tidak salat di masjid.

Baca Juga  Siapa Sebenarnya Yang Bisa Disebut Ustaz?

Maka, mereka yang belum salat di masjid masih mendapat uzur syar’i untuk tetap salat di rumah.

Artikel Terkait