Arini Subianto, Tekad, Kegigihan, dan Kerja Keras

 Arini Subianto, Tekad, Kegigihan, dan Kerja Keras

Kitapastibisa.id – Arini Subianto, Tekad, Kegigihan, dan Kerja Keras – Kumparan

Arini Subianto menjadi salah satu wanita Indonesia yang namanya masuk dalam majalah Forbes sebagai orang Indonesia terkaya nomor 32. Yang mana total nilai harta kekayaannya mencapai US$820 juta atau sekitar hampir Rp12 triliun.

Arini merupakan Presiden Direktur Persada Capital Investama, yang bergerak dengan produk-produk pemrosesan kayu dan kelapa sawit, serta pemrosesan karet dan batubara. Persada Capital Investama menggarap beberapa sektor industri, mulai perkebunan, pertanian, konstruksi, properti, pertambangan, hingga pelayanan kesehatan. Salah satu sumber pendapatannya adalah dari Adaro Energy Tbk, perusahaan pertambangan dan produsen batubara besar di Indonesia.

Menurut Arini, di tangannya kini, Persada Capital akan mengembangkan usaha ke sektor fasilitas kesehatan. Dia tak ingin sekadar berbisnis, tapi juga mewujudkan misi kemanusian dalam unit usahanya.

“Energi kita butuh, pangan dan properti juga. Yang terakhir tapi sangat penting adalah kesehatan,” kata dia.

Baca Juga: Seluk-Beluk Gotong Royong Ala Indonesia

Perjalanan Menuju Kesuksesan

Saat ini Persada Hospital sudah berdiri di Malang, Jawa Timur. Selain untuk komersial, ujar Arini, Persada Hospital juga menyediakan layanan bagi peserta Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Bahkan sedang membangun Gedung BPJS.

Baca Juga  Sultan Baabullah, Pribumi Perkasa Pengusir Penjajah

Arini Subianto tak langsung memegang roda perusahaan keluarga. Pada 1998, sekembalinya ke Indonesia usai menempuh studi di New York, Amerika Serikat, ia mendirikan gift shop di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Bisnis gift shop itu kemudian dikembangkan Arini bersama temannya. Mereka mengombinasikannya dengan toko buku yang kemudian dikenal bernama Aksara pada 2002. Aksara, menurut Arini, ialah perpaduan antara bisnis, hobi, dan kepeduliannya pada soal literasi di Indonesia.

Sejak sang ayahanda berpulang di usia 74 tahun awal tahun ini, Arini–atas kesepakatan keluarga–menggantikan posisi sebagai pengendali perusahaan.

Menurutnya,  perempuan itu memiliki kemampuan empati yang lebih besar, dengan kemampuan tersebut, it enable them to connect with para kolega. Tapi pertanyaan ini paling penting ditujukan kepada para pemimpin perempuan. Karena apabila mereka dapat menciptakan suasana kerja yang penuh kepercayaan dan penghargaan dengan empati ini, maka dengan sendirinya para pemimpin ini akan mendapat dukungan yang kuat dari kolega perempuannya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *