Apa Itu Kecerdasan yang Sia-Sia?

 Apa Itu Kecerdasan yang Sia-Sia?

Kitapastibisa.id – Apa Itu Kecerdasan yang Sia-Sia? – Kompas

Apa Itu Kecerdasan yang Sia-Sia? – Ilmu memiliki posisi yang penting dalam Islam. Agama tersebut mengajarkan pengikutnya agar terus menimba ilmu. Bahkan, saking tingginya derajat ilmu, mereka merupakan wasilah yang mampu mengantarkan manusia ke dalam surga. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Namun, mereka yang berilmu juga mendapatkan ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka diuji untuk mengamalkan ilmu mereka hingga menjadi pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Bahkan, terdapat ilmu yang akhirnya membuat kecerdasan mereka sia-sia. Lantas, seperti apa kecerdasan yang sia-sia dalam pandangan Islam?

Baca Juga: Pesan Chelsea Islan pada Perempuan: Cintai Diri Sendiri

Mengenal Kaum Zindiq

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah menyebut suatu golongan zindiq. Mereka adalah orang-orang yang berakal, namun tidak memiliki akhlak yang terpuji. Mereka mencela orang lain, bersikap sombong atas kecerdasannya sendiri.

Baca Juga  Tiga Cara Untuk Menghindari Dosa Zina

“Kebanyakan orang cerdas terkadang menjadi zindiq (munafik) disebabkan kecerdasannya. Ia merendahkan manusia, memandang bahwa orang lain itu tidak ada apa-apanya. Maka ia pun tersesat dan binasa,” dari kitab Al Hamawiyah 214.

Golongan zindiq berpotensi untuk merusak agama, bahkan dirinya sendiri. Imam Al Ghazali menyebut zindiq adalah seseorang yang mengingkari wujud Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini terlihat dalam bentuk menafsirkan ayat suci Alquran dan hadis semau mereka.

Ulama mahzab Hanbali mengelompokkan orang-orang zindiq dalam 5 kategori: Al-Mu’atillah, Al-Manuwiyah, Al-Mazdakiyah, Al-Abdakiyah, dan Ar-Rohaniyah.

Golongan pertama, Al-Mu’atillah, merupakan orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan yang mengatur alam semesta. Selanjutnya Golongan kedua, Al-Manuwiyah, merupakan orang-orang yang percaya bahwa terdapat lebih dari satu Tuhan. Kemudian Golongan ketiga, Al-Mazdakiyah merupakan kelompok yang memiliki kepercayaan seperti golongan pertama. Al-Abdakiyah, merupakan golongan hanya beribadah atau zahid. Sedangkan golongan kelima, Ar-Rohaniyah, merupakan golongan yang hendak melepas diri dari syariat dengan jalan cinta ruhaniah kepada Allah.

Golongan orang-orang yang disebutkan menggambarkan bagaimana ilmu menjadi ujian yang begitu berat. Di satu sisi, mereka mampu membawa pengembannya lebih dekat kepada Allah. Namun, di sisi lainnya ilmu akan membawa malapetaka.

Baca Juga  Sepotong Cerita Kisah Hidup Dajjal

Ilmu akan menjadi sia-sia jika sang penuntut ilmu tidak menjaga lisannya. Sebab ilmu kerap membawa seseorang dalam sikap munafik, maka salah satu cirinya adalah mencela.

Abu Bakar radhiallahu anhu pernah berkata,

“Sesungguhnya (lidah) ini menjerumuskan kita dalam banyak masalah.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ 2: 988 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11841)

Maka sebaik-baiknya muslim ialah yang selalu berhati-hati dalam bertindak. Semoga Allah menjaga kita dari setiap perbuatan keji.

Artikel Terkait