Agung Ridwan, Disleksia Yang Meningkatkan Literasi

 Agung Ridwan, Disleksia Yang Meningkatkan Literasi

Kitapastibisa.id – Agung Ridwan, Disleksia Yang Meningkatkan Literasi – Jurnaba

Agung Ridwan, Disleksia Yang Meningkatkan Literasi – Ridduwan Agung Asmaka atau yang lebih dikenal dengan sapaan Agung Ridwan merupakan seorang pemuda kelahiran Bojonegoro, 29 Desember 1994.

Saat beranjak dewasa, Agung Ridwan baru menyadari bahwa Ia adalah seorang disleksia. Sebuah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis atau mengeja. Biasanya, para penderita disleksia akan mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.

Namun hal tersebut tidak menghentikan perjuangannya untuk berkarya. Dengan penuh semangat pria yang akrab dengan sapaan Kak Agung ini mengeluarkan tiga karya yakni Perpustakaan Semangat Muda (Perpus GatDa), Les Bayar Sampah (Les Basa) dan Dunia Imajinasi.

Agung Ridwan mengaku terinspirasi dari sosok John Wood, penulis buku Room to Read. Dari situ, Agung tergerak meningkatkan minat baca anak-anak dengan membuat perpustakaan sendiri. Setiap Minggu pagi, Agung melapakkan buku-bukunya di CFD Alun-alun Bojonegoro. Mulai pukul 6 pagi dia berkeliling sambil berteriak mengajak masyarakat untuk membaca buku.

Baca Juga  Menembus Keterbatasan Bersama Wiro Hamjen

Baca Juga: Johannes Leimena Menteri Kesehatan Yang Menjadi Pahlawan Nasional

Agung Ridwan Menyalurkan Semangat Literasi

Tidak berhenti sampai disitu, Agung Ridwan juga mempunyai kegiatan perpus keliling yang menggunakan kendaraan becak lengkap dengan puluhan bahkan hingga ratusan buku bacaan. Buku di perpustakaan keliling miliknya boleh dibaca di tempat atau dipinjam untuk dibawa pulang. Jika ingin meminjam buku, cukup dengan membayar dengan sampah botol plastik atau sampah lainnya.

Tak hanya itu saja, saat liburan. Anak-anak di sekitarnya diajak untuk mengikuti sanggar gatda yang merupakan program kesenian dan kebudayaan untuk anak-anak. Di akhir latihan akan ada panggung ekspresi untuk menunjukkan hasil latihan yang dilakukannya.

Selain itu, adapula program les basa singkatan dari Les Bayar Sampah. Sebuah program pembelajaran yang ketika datang anak-anak hanya membawa sampah sebagai pengganti uang. Ada sekitar 30 – 40 anak yang ikut belajar, kebanyakan dari mereka, berusia pra sekolah hingga SMP.

Di Les Basa ini, Agung mengajar matematika kepada anak-anak peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan kemampuan pria yang sedang kuliah semester akhir di jurusan matematika. Selain pelajaran matematika, dia juga memberikan motivasi dan arahan kepada anak-anak melalui cerita dan mendongeng. Tak jarang pula, Agung mengajak anak-anak Les Basa bermain dan belajar seperti baca puisi, bermusik, menyanyi, pantomim, wayangan dan sebagainya.

Baca Juga  Rona Mentari, Juru Dongeng yang Mendunia

Selain perpus gatda dan les basa, kak Agung juga mendirikan Dunia Imajinasi. Sebagai ajang aktualisasi diri kak Agung dengan kondisinya sebagai orang dewasa yang disleksia. Kak Agung bahkan disebut juga sebagai seniman muda karena karya-karyanya melalui dunia imajinasi.

Artikel Terkait