Adab Berpakaian dalam Islam Beserta Penjelasan

 Adab Berpakaian dalam Islam Beserta Penjelasan

Kitapastibisa.id- Adab Berpakaian dalam Islam Beserta Penjelasan – Shopee

Adab Berpakaian dalam Islam Beserta Penjelasan – Saat ini, model pakaian terus berkembang pesat. Tak terkecuali model pakaian bagi muslim dan muslimah. Mulai dari corak yang semakin mewah, model yang semakin banyak, hingga warna yang semakin mentereng.

Perkembangan mode menyebabkan pandangan muslim dan muslimah terpecah. Sebagian muslim dan muslimah beranggapan bahwa yang sederhana namun sesuai syariat adalah yang terbaik. Namun sebagian lainnya berpikir bahwa pakaian harus bagus, rapi, dan yang terpenting sesuai syariat Islam. Lantas, bagaimana menyikapi perbedaan pendapat tersebut?

Untuk itu, ada baiknya kita sebagai muslim harus awas dengan adab berpakaian. Islam memiliki pandangannya terkait kasus ini.

Islam sebagai agama yang sempurna memberikan panduan perihal berbusana. Dalam berpakaian, setidaknya muslim dan muslimah harus mematuhi adab-adab yang dianjurkan dalam Islam. Untuk itu, mempelajari adab berpakaian dapat membawa kita terhindar dari keburukan.

Baca Juga: Melihat Kepribadian Muslim dari Cara Ia Berbicara

Berikut 5 adab berpakaian dalam Islam.

  1. Pakaian yang Menutupi Aurat

Adab pertama yang bersifat dasar adalah pakaian yang menutupi aurat. Sebagian besar ulama menyebut aurat laki-laki adalah dari pusar hingga lutut. Sedangkan untuk perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Adab berpakaian ini merupakan firman Allah ta’ala dalam surat Al-’raf ayat 32,

Baca Juga  Film Lama Yang Masih Layak Untuk Ditonton

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan” (QS. Al A’raf: 32)

  1. Pakaian yang Halal

Tak hanya makanan dan harta saja, namun pakaian memiliki label halal. Maksud dari pakaian yang halal adalah memperoleh pakaian dengan cara yang halal. Boleh jadi dengan menggunakan harta yang halal dan bukan merupakan barang curian. Ihwal pakaian yang halal Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalih’ (QS. Al Mu’min: 51). Alla Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim no 1015).

Baca Juga  Quraish Shihab: Menjaga Lisan, Meraih Ketenangan

Dalam hadis tersebut, konsekuensi dari pakaian yang haram cukup berat. Nabi menyebut Allah tidak akan mengabulkan permohonan dari orang yang mengenakan pakaian haram.

  1. Tidak Menyerupai Lawan Jenis ataupun Orang Kafir

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak mengehdaki seorang laki-laki yang mirip perempuan dan juga sebaliknya. Makna dari menyerupai dapat berbentuk dari perilaku, dandanan, dan cara berpakaian. Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).

Selain melarang untuk mengenakan pakaian yang menyerupai lawan jenis, Nabi juga melarang pakaian yang menyerupai orang kafir. Maksudnya, pakaian tersebut merupakan ciri khas dari orang-orang kafir. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Orang yang menyerupai suatu kaum, seolah ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).

  1. Tidak Memakai Pakaian Ketenaran

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu alaihi  wa sallam bersabda,

Baca Juga  Son Ye Jin Membeli Gedung Mewah Seharga 205 Miliar

“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memberinya pakaian hina pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no.4029, An An Nasai dalam Sunan Al-Kubra no,9560, dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.2089).

Rasul menyebut pakaian ketenaran dengan sebutan syuhrah. Dari Mukhtashar Jilbab Mar’ah Muslimah, Asy Syaukani menjelaskan bahwa pakaian ketenaran adalah pakaian yang membuat orangnya merasa sombong. Maksud dari pakaian ketenaran adalah niat untuk terlihat tenar dalam tengah masyarakat. Itu sebabnya agama Islam melarang pakaian ketenaran.

  1. Kenakan Pakaian dari Sebelah Kanan dan Baca Doa

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu mendahulukan bagian kanan saat melakukan sesuatu. Termasuk dalam mengenakan pakaian. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha,

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya” (HR. Bukhari no. 168).

Selain mengenakan dari sebelah kanan, Nabi menganjurkan untuk membaca doa. Berikut doa untuk memakai pakaian,

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku. (HR. Abu Daud no. 4023).

Artikel Terkait