Abdullah bin Ubay bin Salul, Potret Hoaks Zaman Nabi

 Abdullah bin Ubay bin Salul, Potret Hoaks Zaman Nabi

Kitapastibisa.id – Abdullah bin Ubay bin Salul, Potret Hoaks Zaman Nabi – NU

Abdullah bin Ubay bin Salul, Potret Hoaks Zaman Nabi – Penyebar berita bohong dan tukang adu domba telah ada sejak lama. Dewasa ini, agaknya mereka semakin menjadi-jadi. Teknologi yang semakin berkembang membuat pekerjaan mereka semakin mudah. Terlebih, untuk menyembunyikan jati diri mereka.

Pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun, penyebar berita bohong dan tukang adu domba sudah ada. Tak hanya melakukan fitnah kepada istri nabi, ia bahkan mengadu domba kaum Muhajirin dan Anshar. Siapakah ia?

Ia adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Menjadi sebuah kebiasaan orang Arab jahiliah pada zaman dahulu untuk menambah bumbu dalam berita. Dalam riwayat Israilyat bangsa Arab merupakan keturunan Sam yang memiliki kepiawaian dalam berbicara. Itu mengapa kasus Abdullah bin Ubay bin Salul kerap terjadi.

Lantas, bagaimana Rasul menghadapi hal tersebut?

Baca Juga: Selebgram Angela Lee Dilamar Pengusaha Tajir

Kala Nabi Menghadapi Berita Bohong

Peristiwa haditsul ifki merupakan salah satu kejadian yang menjadi potret berita bohong masa lalu. Peristiwa tersebut mengisahkan istri Nabi, Aisyah, yang dituduh oleh Abdullah bin Ubay bin Salul telah berzina dengan Shafwan bin al-Mu’aththal al-Sulami.

Baca Juga  Beberapa Langkah Merawat Tanaman Hias

Shafwan merupakan pemuda yang saleh dan rupawan. Kala itu, Nabi beserta beberapa sahabat dan Aisyah tengah melakukan perjalanan. Namun sayangnya, Aisyah tertinggal rombongan lantaran merasa Ia kehilangan barang. Kala itu, Shafwan yang bertugas di belakang rombongan menemukan Aisyah.

Abdullah bin Ubay bin Salul justru memanfaatkan kejadian tersebut untuk menjatuhkan Nabi. Bahkan kala itu, Nabi pun terjerumus pada prasangka buruk akibat ucapan Abdullah bin Ubay.

Tak hanya itu, Abdullah bin Ubay bin Salul pernah melakukan provokasi antara kaum Anshar dan Muhajirin. Kala terjadi pertengkaran antara Jahjah bin Mas’ud al-Ghifari dan Sinan bin Mas’ud al-Juhani, Abdullah bin Ubay ambil bagian.

“Lihatlah! Orang-orang yang telah kalian tolong dan diberikan tempat tinggal ternyata telah mengkhianati kalian. Wahai kaumku, jika kalian mencintai diri kalian, janganlah kalian menolong kaum Muhajirin lagi,” ujar Abdullah bin Ubay di depan kaum Anshar.

Peristiwa itu dilihat oleh Zaid bin Arqam, seorang pemuda saleh. Kala ia melaporkan hal tersebut kepada Nabi, namun justru Zaid mendapat tuduhan berbohong.

Baca Juga  Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Yang Kaya Prestasi

“Tidak Rasul, demi Allah dan demi Alquran yang telah diturunkan kepadamu sesungguhnya Zaid adalah orang yang berbohong. Dia telah melakukan kebohongan,” Abdullah bin Ubay berkilah.

Perbuatan Abdullah bin Ubay inilah yang membuat hubungan antara kaum Muhajirin dan Anshar memburuk.

Cara Rasul Menyelesaikan Perkara

Saat istrinya difitnah telah berzina dengan pria lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diam. Ia sangat sedih bahwa itu terjadi. Bahkan, beliau meminta Aisyah bertaubat seakan Nabi percaya terhadap berita bohong yang sampai kepadanya.

Namun kala itu, Allah menurunkan surat al-Nur ayat 11 sampai 22 sebagai jawaban atas kegelisahan Nabi. Dalam ayat 11 Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).”

Baca Juga  Yang Perlu Diketahui oleh Muslim Tentang Sindrom Impostor

Pada kasus pertikaian kaum Anshar dan Muhajirin, Rasul melakukan tabayyun kepada Zaid dan Abdullah bin Ubay. Hal ini merupakan anjuran dalam agama Islam yang bersumber pada surat Al-Hujurat. Dalam ayat ke-6, Allah ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Demikian cara Rasul menyelesaikan berita bohong, yakni bertabayun dan bersabar. Dalam kasus hoaks yang menimpa istrinya, Rasul bersabar dan berdoa kepada Allah. Dengan demikian Allah menuntun Nabi dan memberikan jawaban atas doanya.

Sedangkan dalam kasus kaum Muhajirin dan Anshar, Rasul meneliti sumber berita dengan bertanya kepada sumbernya.

Kedua cara tersebut hendaklah kita terapkan dalam menghadapi gempuran hoaks. Yang paling utama adalah meneliti sumber penyebar berita. Apabila sumber tersebut tidak jelas, maka ada baiknya tidak perlu menggubrisnya.

Artikel Terkait