Abbad bin Bisyr, Sahabat Nabi yang Terus Salat Meski Dipanah

 Abbad bin Bisyr, Sahabat Nabi yang Terus Salat Meski Dipanah

Kitapastibisa.id – Abbad bin Bisyr, Sahabat Nabi yang Terus Salat Meski Dipanah – Bersama Dakwah

Abbad bin Bisyr, Sahabat Nabi yang Terus Salat Meski Dipanah – Abbad bin Bisyr merupakan salah satu sahabat Nabi yang luar biasa. Bahkan, Aisya radhiyallahu anha menyebut tak ada orang Anshar yang mampu menyamai kesalehan beliau. Bagaimana tidak? Ia memilih mati ketimbang harus menyudahi salatnya.

Kisah Abbad bin Bisyr merupakan sebuah kisah fenomena mengenai nikmat dan indahnya salat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan,

“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya yaitu ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa.”

Sungguh, salat merupakan nikmat yang tidak tergantikan bagi orang-orang yang beriman. Saking nikmatnya, Ia bahkan tidak merasakan ada sejumlah panah menembus tubuhnya kala ia melaksanakan salat. Ia lebih baik mati dari pada harus memutuskan bacaan ayat suci Alquran dalam salatnya. Dan, lebih baik hidupnya putus dari pada salatnya yang putus.

Baca Juga: Riwayat Saad bin Abi Waqqash: Doa yang Semanjur Panahnya

Kesalehan dan Keberanian Abbad bin Bisyr

Sejak usia muda, Abbad bin Bisyr merupakan sosok yang santun. Ia memiliki perilaku yang baik dalam kesehariannya. Bahkan sebelum ia masuk ke dalam agama Islam. Mush’ab bin Umair merupakan dai asal Makkah yang menjadi pintu masuk Abbad pada Islam.

Baca Juga  Diplomat Asal Papua yang Cemerlang

Sebelum menyentuh usia 25 tahun, Abbad bin Bisyr masuk Islam. Pertemuannya dengan Mush’ab bin Umair membawanya ke dalam kenikmatan agama yang Allah subhanahu wa ta’ala itu. Ia mulai mempelajari agama Islam dan Alquran dengan Mush’ab bin Umair.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahkan kagum dengan kesalehannya. Suaranya yang merdu manakala ia membacakan ayat suci Alquran membuat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadikan Abbad sebagai pembawa Alquran pada peperangan yang Nabi pimpin.

Suatu ketika, sepulang dari Perang Dzatur Riqa’, kejadian itu terjadi. Malam itu, Abbad bin Bisyr dan Ammar bin Yasir bertugas untuk menjaga kaum muslimin yang hendak beristirahat pada malam hari. Malam itu, Abbad adalah orang yang berjaga terlebih dahulu sebelum nanti Ammar menggantikan.

Sembari menjaga, Abbad menghabiskan waktu dengan salat malam. Keheningan malam itu membuat suasana menjadi sangat tenang. Terlebih, suara Abbad yang membacakan surat Al-Kahfi malam itu membuat suasana semakin syahdu.

Melihat seorang penjaga yang tengah solat, seorang penyusup memanfaatkan momen tersebut. Ia melontarkan anak panah ke arah Abbad yang sedang salat. Ketika panah itu menembus tubuhnya, Abbad tak bergeming. Ia terus melanjutkan salatnya seraya mencabut anak panah pertama. Ketika anak panah kedua terbenam dalam tubuhnya, Abbad tetap melanjutkan salatnya. Hingga 3 anak panah bersarang pada tubuhnya, Abbad terus beribadah hingga ia selesia. Melihat saudaranya bercucuran darah, Ammar bin Yasir panik.

Baca Juga  Johny Setiawan “Astronom Gokil” Asal Indonesia

“Aku sedang membaca Al-Qur’an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas jaga yang dibebankan Rasulullah, menjaga pos perkemahan kaum Muslimin, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dalam shalat,” tutur Abbad.

Syahidnya Sang Abbad bin Bisyr

Abbad bin Bisyr tidak mati dalam serangan panah pada malam ia berjaga. Allah menyelamatkan Abbad dari 3 anak panah yang menembus tubuhnya kala beribadah dengan Sang Khalik pada malam hari. Bahkan, Abbad hidup hingga perang masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Kala memerangi Nabi palsu, Musailamah Al-Kadzab, Abbad merupakan salah seorang mujahid yang mendesak pasukan lawan. Abbad bersama pasukannya mampu memecah belah barisan pertahanan lawan serta mengacaukan pasukan musuh. Karena itu, pasukan Musailamah Al-Kadzab terpukul mundur.

Namun, situasi berbalik ketika Nabi Palsu ikut masuk ke dalam peperangan tersebut. Pasukannya memojokkannya ke dalam Kebun Maut. Itu lah akhir dari kehidupan Abbad. Tubuhnya hancur oleh luka tusuk dan tebasan pedang. Bahkan lembing dan panah bersarang pada tubuh sang Abbad.

Baca Juga  Perempuan Desa Cluntang, Boyolali, Olah Mawar Jadi Makanan

Tak ada yang mengenali jenazah Abbad kala melihatnya pertama kali. Namun, bekas luka panah yang menembusnya kala ia salat malam memberi tanda bahwa jenazah tersebut adalah Abbad bin Bisyr. Satu dari 3 orang Anshar yang sangat saleh.

Artikel Terkait