5 Sosok Konglomerat Keturunan Tionghoa yang Dahulu Melarat

 5 Sosok Konglomerat Keturunan Tionghoa yang Dahulu Melarat

kitapastibisa.id – 5 Sosok Konglomerat Keturunan Tionghoa yang Dahulu Melarat

“Sejumlah pengusaha keturunan Tionghoa ini membuktikan orang melarat bisa jadi konglomerat. Bagi mereka, tak ada kata tidak bisa bagi seorang pengusaha.”

From zero to hero. Mungkin ungkapan itu cocok untuk menggambarkan 5 sosok pengusaha keturunan Tionghoa ini. Dari tangan mereka, lahir perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Namun, siapa sangka kemegahan perusahaan tersebut merupakan besutan orang-orang biasa? Kiprahnya dalam dunia entrepreneur berhasil menggugah semangat anak bangsa tuk mengikuti jejak mereka. Siapa saja kah konglomerat tersebut?

Baca Juga: Supian Nor, Pengrajin Sedotan Ramah Lingkungan dari Banjarmasin

William Soeryadjaya

Siapa yang tidak tahu PT Astra International? Perusahaan asal Indonesia ini merupakan salah satu grup otomotif terbesar di Asia Tenggara. Tak hanya industri otomotif, sayap bisnis Astra juga mencakup sejumlah sektor seperti alat berat pertambangan dan energi, jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti. Di balik prestasi Astra yang mendunia, perusahaan tersebut lahir dari seorang penjual sembako.

William Soeryadjaya, seorang yatim piatu yang putus sekolah, adalah sosok dibalik kemegahan PT Astra International. Asin garam dunia sudah ia rasakan. Sejak putus sekolah di umur 19 tahun, pria kelahiran 20 Desember 1922 ini perlu banting tulang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Mulai dari menjadi pedagang kertas, hingga menjadi penjual sembako, ia lakoni demi menyambung hidup. Dari bisnis itu ia mampu melanjutkan studi industri teknik penyamakan kulit di Belanda.

Baca Juga  Bocah Kelas 4 SD Rela Menabung Demi Berqurban

Pada tahun 2019, astra menaungi sekitar 220 ribu karyawan dan 229 anak perusahaan. Ia membuktikan usaha tak menghianati hasil.

Eka Tjipta Wijaya

Building for a better future. Slogan Sinarmas ini menggambarkan kehidupan sosok yang membangunnya. Eka Tjipta Wijaya, pendiri Sinarmas Group, berhasil membangun masa depan yang cerah bagi Indonesia dan keluargannya. Dahulu hanya lulus SD, sekarang kekayaannya mencapai 198 triliun.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia harus berhenti sekolah lantaran waktunya habis untuk usaha. Ini ia harus lakukan demi membantu ayahnya yang terbelit hutang. Tahun 1950, Eka dipercaya untuk melakoni bisnis sembako melalui permintaan Kapten Surario, seorang tentara. Melalui relasi yang kuat dengan Surario, ia memiliki pondasi bisnis yang kuat. Digempur dengan bangkrut berkali-kali dalam berbagai sektor bisnis yang ia coba tak membuatnya goyah. Pada tahun 1960-an ia membangun CV Sinarmas.

Kepercayaan dan relasi adalah kunci kesuksesan Eka dalam berbisnis. Hubungannya dengan Surario yang ia jaga merupakan aset yang berharga. Kini, Sinarmas mempekerjakan sekitar 380 orang dengan pendapatan sekitar 17 triliun pada tahun 2019.

Sudono Salim

Sudono Salim merupakan sosok di balik Salim Group. Ia memulai kariernya di Indonesia sebagai seorang buruh pabrik pembuatan tahu dan kerupuk. Sebelumnya, ia merupakan seorang imigran asal China yang menggelandang di Surabaya yang saat itu masih daerah jajahan Belanda. Kini, ia menjadi orang nomor satu di perusahaan skala internasional, yakni Indofood.

Baca Juga  Ekspresi Seni Melukis dengan Media Kopi

Hidup dalam tekanan tak membuat nalurinya tumpul. Sebagai seorang buruh pabrik pembuatan tahu dan kerupuk, ia mampu melihat peluang bisnis di Kudus, Jawa Timur. Memasok cengkeh dan tembakau adalah usaha pertama yang ia geluti. Tahun 1942 perusahaannya gulung tikar lantaran tekanan dari kekuasaan Jepang. ini tak pula menghentikan langkahnya. Bersama Mochtar Riady ia mendirikan Central Bank Asia yang kini dikenal dengan Bank Central Asia (BCA).

Naluri tajam seorang Sudono Salim membawanya menjadi seorang konglomerat. Tak hanya BCA, Indofood yang mendunia merupakan besutan mantan gelandangan Surabaya ini.

Dato’ Sri Tahir

Dari ibunya, seorang pedagang pakaian, Dato’ Sri Tahir belajar berdagang. Sejak kecil, Dato’ kerap diminta ibunya untuk menjual barang ke Pasar Baru dan Mangga Dua di Jakarta. Hidup sederhana tak membuatnya patah semangat. Pada Desember 2019 ia dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 7 di Indonesia, versi Majalah Forbes.

Di umurnya yang ke-20, Dato’ mendapatkan beasiswa di sekolah bisnis di Nanyang Technological University, Singapura, setelah sebelumnya ia menggantikan ayahnya berdagang onderdil becak. Sembari mengemban ilmu, Dato’ menekuni bisnis pakaian dari Singapura ke Indonesia. Pada usia 35, Dato’ kembali bersekolah di jurusan pendidikan keuangan, di Golden Gates University, California.

Kepiawaiannya dalam berbisnis menjadikannya seorang konglomerat. Hidup serba susah tak menjadi hambatan bagi Dato’ dalam meraih mimpinya. Kini, Dato’ tak hanya berhasil mendirikan Mayapada Group, ia juga ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Baca Juga  Mengenal Reza Rahardian Dari Sudut Pandang Hanung

Liem Seeng Tee

Dinasti Sampoerna yang membahana berawal seorang pedagang makanan kecil di kereta, Liem Seeng Tee. Seluruh prestasinya dimulai dari kesederhanaan dan keuletan. Sejak remaja, pendiri PT. HM Sampoerna ini sudah hidup mandiri. Selama 18 bulan ia berjualan makanan kecil di gerbong kereta tanpa istirahat. Kendatipun demikian, ia masih menjajakan rokok hasil racikannya sendiri di gerbong kereta. Dari usaha kecilnya di Surabaya, kini ia menjadi konglomerat Indonesia

Jalan terjal sudah ia lalui. Pria kelahiran tahun 1893 pernah bekerja sebagai peracik dan pelinting tembakau di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Dengan kepiawaiannya meracik tembakau, Liem Seeng Tee mantap membuka usaha rokoknya sendiri di sebuah warung kecil. Dengan uang tabungan yang istrinya simpan di tiang bambu, ia mampu membeli sebuah perusahaan tembakau yang bangkrut. Saat Jepang mendarat di Surabaya pada tahun 1942, Liem Seeng Tee dibawa ke Jawa Barat untuk menjadi buruh kerja paksa. Usahanya luluh lantah akibat tekanan kolonial Jepang.

Namun, berkat dukungan keluarga serta keuletannya, ia berhasil bangkit. Setelah Indonesia merdeka, Liem Seeng Tee memulai usahanya kembali dengan mengusung merk “Dji Sam Soe”. Siapa yang tak kenal dengan merk itu? (HB)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *