12 April Hari Lahir Sri Sultan Hamengkubuwono IX

 12 April Hari Lahir Sri Sultan Hamengkubuwono IX

kitapastibisa.id – 12 April Hari Lahir Sri Sultan Hamengkubuwono IX – lensapena

12 April Hari Lahir Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Gusti Raden Mas Dorodjatun atau lebih dikenal dengan gelar kesultanan Yogyakarta, Hamengkubuwono IX (atau dengan ejaan lain Hamengkubuwana IX dan Hamengku Buwono IX), lahir di Ngasem, Yogyakarta, pada 12 April 1912. Sejak usia 4 tahun, Dorodjatun–nama kecilnya–dititipkan pada keluarga Mulder yang tinggal di Gondokusuman. Ia bersekolah di taman kanak-kanak (Frobel School) di Bintaran Kidul.

Setelah menempuh Europese Lager School (Sekolah Dasar) sampai lulus Hoogere Burgerschool (HBS/Sekolah Menengah), ia lalu melanjutkan ke jenjang kuliah di Rijkuniversiteit, universitas tertua di Leiden, Belanda, pada 1931. Ia mengambil jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) dan ekonomi.

Pulang ke tanah air pada 1939, Dorodjatun dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono ke-IX pada 18 Maret 1940 dengan gelar “Ngarsa Dalem Sampéyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Sénapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat“.

Baca Juga: Ritual Sepak Bola di Kamp Pengasingan Digul, Papua

Baca Juga  Melestarikan Museum Lewat Komunitas Malam Museum

Yogyakarta sebagai Ibu Kota Indonesia

Sebagai bangsawan yang demokratis, Sultan mempunyai banyak andil dalam perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia. Salah satu usahanya ialah menawarkan Yogyakarta sebagai ibu kota Republik setelah Belanda menguasai Jakarta pada awal 1946.

Tawaran itu disetujui Presiden Sukarno yang kemudian disusul peristiwa pelarian menggunakan kereta api pada 4 Januari 1946 waktu malam. Sultan jugalah yang berjasa dalam membangkitkan perekonomian negara.

Ia menggunakan dana kerajaan sekitar enam juta gulden untuk mengisi kekosongan kas Republik Indonesia yang baru lahir. Selain pernah menjadi Menteri Pertahanan, Sultan juga pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia pada periode 1973-1978.

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, keadaan perekonomian sangat buruk. Kas negara kosong, pertanian dan industri rusak berat akibat perang. Blokade ekonomi yang dilakukan Belanda membuat perdagangan dengan luar negeri terhambat. Kekeringan dan kelangkaan bahan pangan terjadi di mana-mana, termasuk di Yogyakarta. Oleh karena itu, untuk menjamin agar roda pemerintahan RI tetap berjalan, Sultan Hamengkubuwana IX menyumbangkan kekayaannya sekitar 6.000.000 Gulden, baik untuk membiayai pemerintahan, kebutuhan hidup para pemimpin dan para pegawai pemerintah lainnya.

Sultan juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada 14 Agustus 1961 yang kemudian menjadi Hari Pramuka Nasional.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *